Can I?


Count on Me – Bruno Mars

Ada di buku mba @asmanadia


Jika kau kira

dengan sebelah sayap

aku akan terkoyak

maka camkanlah

dengan sebelah sayap itu

akan kujelajah gunung

ombak-ombak samudra

dan gemintang di angkasa

 

Sebait puisi yang ada di salah satu buku mba Asma Nadia. Berasa jadi strong! Bahkan tanpa sayap pun, insyaallah. :)

Tawanan Benteng Lapis Tujuh


Tawanan Benteng Lapis Tujuh: Novel-Biografi Ibnu Sina (Sajin Qal'ah al-Aswar as-Sab'ah)Tawanan Benteng Lapis Tujuh: Novel-Biografi Ibnu Sina by Husayn Fattahi

My rating: 3 of 5 stars

“Sebagaimana Allah telah menciptakan dirimu berbeda dari orang lain dan menciptakan kemampuanmu yang juga berbeda dari yang dimiliki orang lain, maka begitu pula hidupmu yang juga tidak seperti hidup mereka.” (Tentang Ibnu Sina)
***
Jangan baca Novel-Biografi Ibnu Sina: Tawanan Benteng Lapis Tujuh karya Husayn Fattahi ini. Jangan baca kalau ingin tau detail tentang kehidupan seorang guru besar kedokteran dunia ini. Soalnya, emang biografinya ini dikemas dengan gaya novel. Dan karena itulah, saya betah baca buku ini. Voila, tiba-tiba nyampe halaman terakhir dan berharap ada halaman tambahan. Kalo di konser-konser, “We want more! We want more!”
Saya kuliah di FK. Tapi jujur, sangat sedikit paparan mengenai tokoh-tokoh yang berperan di dunia kedokteran. Sedikit, tapi ada. Hehe. Makanya pas nemu buku ini di kosan Alnis, langsung dipinjem deh.
Dari buku ini, saya emang ga jadi lebih tau tentang ilmu kedokterannya. Tapi perjalanan Ibnu Sina selama hidupnya. Asy-Syaikh Ar-Rais Abu Ali ibn Sina (Avicenna) tidak menjalani kehidupan yang “mudah”. Menghabiskan kehidupannya dengan menjadi buronan dari satu penguasa ke penguasa yang lain dan sempat dipenjara. Tapi meski kehidupannya tidak mudah, beliau tetap menghasilkan karya-karya.
Beliau banyak menulis buku – bukunya bukan tentang kedokteran aja, tapi juga ada fisika (!), filsafat, dan lainnya, (puluhan buku, bukan cuma nulis LI yang sebenernya cuma nerjemahin TT.TT), mengobati pasien, dan mengajar. Subhanallah, sempet ya? Pernah satu malam beliau berdiskusi dengan murud-muridnya semalaman sampai subuh, lalu beliau izin pamit ke murid-muridnya karena harus pergi. Pergi ke medan perang. Murid-muridnya sampai malu karena tidak memberi kesempatan gurunya untuk beristirahat. Tapi beliau tidak keberatan. Aaaaaaargh.
Terus waktu dipenjara, nulis buku. Beberapa jilid. Nulis buku (penekanan). Ga cuma ngetweet ga penting (penekanan lagi ke diri sendiri). #eaa
Untuk info lebih lanjut, silakan baca sendiri. Sekian.

View all my reviews

Habibie & Ainun


Habibie & AinunHabibie & Ainun by Bacharuddin Jusuf Habibie
My rating: 4 of 5 stars

Saya selalu bilang ke orang-orang (tertentu) kalau buku ini adalah buku romantis. :3 Keliatan dari judulnya juga, Habibie & Ainun. Naon sih.
Saya skip aja ya bagian romantis-romantisnya. Bagian komunikasi tanpa bicara, senyuman yang selalu dirindukan, selalu bareng kapan pun dimana pun, dan lainnya. Hehe. Katanya skip.
***
Ada 2 sisi. Sisi Pak Habibie dan sisi Bu Ainun.
Pertama, Pak Habibie. Beliau itu pekerja keras dan selalu total dalam setiap pekerjaannya. Waktu awal-awal berumah tangga, penghasilan beliau tidak begitu memadai. Kalau dipake sendiri sih berlebih, tapi dua orang ga cukup, apalagi hidup di Jerman, harus menanggung biaya asuransi, dan sebagainya. Beliau mengambil pekerjaan tambahan (selain sambil menyelesaikan program doktornya dan mengajar) juga sering lembur. Pulang sering larut malam, udah ga ada bis, akhirnya jalan kaki. Sering juga karena berhemat, jalan kaki ke tempat kerja belasan kilometer. Sepatu barolong. Terus musim dingin. Akhirnya dilapisin kertas. #gapahamlagi
Terus jadi sedih baca kisah industri pesawat terbang Indonesia. Ada bagian dimana Pak Habibie flashback ke tahun 2005 saat beliau akan menghadiri konferensi internasional di Indonesia. Beliau naik pesawat hasil rancangan konorsium Eropa. Padahal seharusnya, kalau ga dijegal IMF waktu krisis 1998, seharusnya Indonesia udah bisa menikmati pesawat yang tidak kalah bagus tapi buatan sendiri. Standar ganda IMF. Intinya sih, waktu krisis itu, Indonesia bakal dibantu IMF asal pendanaan ke bidang strategis dihentikan, termasuk pendanaan untuk membuat pesawat terbang. Beda lagi sama waktu AS dan eropa krisis 2007-2010 kemaren. Ya, standar ganda katanya.
Saat masih kuliah di perantauan (Jerman), beliau pernah sakit parah. Dan apa yang membuat beliau bertahan? Salah satunya adalah karena kemauan untuk mengabdi lagi ke Indonesia nanti. Itu beliau buktikan saat sudah mapan, menjadi direktur perusahaan pesawat terbang di Jerman, beliau memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk mengabdi saat dipanggil oleh Pak Presiden (waktu itu Pak Harto). Menjadi menristek selama 5 periode, wakil presiden, dan presiden, plus ketua beberapa (beberapa!) badan yang berkaitan dengan pekerjaannya. Bikin mikir dan banyak liat diri sendiri yang sangat lemah ini.
Kedua, Bu Ainun. Segitu besarnya peran beliau dalam kehidupan Pak Habibie. Sabar, pantang mengeluh, selalu senyum tampaknya. Beliau juga dokter! :3 Yang paling care sama kesehatan suami dan anak-anaknya. Ada saat dimana beliau bekerja sebagai dokter di rumah sakit Jerman. Suatu hari, anaknya sakit. Beliau berpikir, “Anak orang lain saya obati, tapi anak sendiri tidak.” Akhirnya beliau berhenti dari rumah sakit tersebut dan total berperan di rumahnya, sebagai ibu, istri, dan dokter bagi suami serta anak-anaknya.
Bu Ainun itu partnernya Pak Habibie. Setiap mengambil keputusan, apapun, selalu setelah berunding bersama. Dan Bu Ainun sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis, bahkan sering karena pertanyaan Bu Ainun, Pak Habibie jadi terinspirasi.
Selama mendampingi Pak Habibie, Bu Ainun aktif di beberapa kegiatan sosial lainnya seperti yayasan beasiswa ORBIT dan Perhimpunan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia. Beliau pun menginisiasi sebuah pengajian rutin yang selalu diadakan di rumahnya Patra Kuningan.
Saat beliau wafat, Pak Habibie beserta keluarga mengadakan pengajian di rumahnya. Selama 40 hari, lebih dari 1000 orang datang ke rumah beliau untuk mengaji dan ikut mendoakan, setiap harinya. Masya Allah. Kalau saya meninggal nanti gimana ya? Emangnya udah ngapain juga hey? Siapa lo?
***
Sangat banyak detail yang tidak saya tulis. Emang lebih baik baca sendiri biar ga terdistorsi. #tetep #suruhbacasendiri #asalways
Secara keseluruhan, buku ini menohok saya. Karena saya masih banyak leha-lehanya. Ga disiplin sama diri sendiri. Padahal sesibuk itu, beliau-beliau baca Al Quran minimal 1 juz sehari dan rutin shaum senin kamis. (btw, besok senin) Sibuk teh apa atuh ya? Saya juga masih banyak ngeluh. Padahal apalah ujian yang saya terima. (._.)
Semangat semangat semangat! Ambil dan tiru yang baik-baiknya. Masih mungkin dan bisa berubah, insyaallah.

View all my reviews

C-Games :)


ini fix suka bangeeeet :3

97 hari yang lalu! (2/2)


Teh, dulu pernah ngebayangin ga, dapet anak-anak kaya kita?

-Zahra Fitrianti, FK Unpad 2011, Selasa 280212 di Splash silver

***

Melihat realita yang ada, sebenernya saya ga menetapkan satu standar tinggi bagi staf yang mau masuk Medinfo. Yang penting berminat! Karena kalau cinta, yang berat pun terasa ringan (eaaa skip). Skills bisa diasah lah ya, insyaallah.

Masa-masa sebelum staffing, sering deg-degan, khawatir, terus sugesti diri, gitu aja terus-terusan. Kekhawatiran yang ternyata ga terbukti, sama sekali.

Somehow, everything just become too good to be true!

Pertemuan pertama sebagai tim, pas hari pelantikan pengurus. Sayang sekali waktu itu belum full team, karena suatu alasan, Iva ga bisa dateng. Alhamdulillah, pertemuan (sebut saja rapat) selanjutnya, jarang banget ga full team. Bonding Pre bonding (seseorang bernama Imam ngotot bilang ini pre bonding) pun berjalan lancar dan seru (meski, lain kali ga boleh lagi pokonya kemaleman)!  Standar sebenernya: makan, foto, tuker kado. Tapi karena bareng mereka, jadi ga standar :’) Insiden tuker kado dimana Imam dan Nono paling semangat dengan segala upaya biar mereka ga dapet kado dari diri mereka sendiri (Imam ga mau dapet punya Nono, pun sebaliknya). Pada akhirnya, Nenden si gadis panikan yang harus bersabar dengan kado dari Nono dan Imam. OK. End of topic.

***

Menjawab pertanyaan Zahra diatas, jujur, saya ga tau. Lupa. *peace* Tapi saya inget, saya selalu membayangkan nantinya kita itu kaya keluarga: saling percaya, saling memberikan yang terbaik, merasa nyaman disini, kaya di rumah. Itu aja sih. And somehow, everything just become too good to be true! Ada…

Nono, orang yang (percaya ga percaya) paling sigap membalas sms saya, seenggak penting apapun itu, dibales! :’) Padahal lagi sibuk pendas AMP. Terharuuu.

Imam, orang yang paling nyante yang pernah saya liat. Sering bikin gemes saking nyantenya nih orang, tapi bikin saya yang agak perfeksionis ini bisa agak rileks dan mikir ulang, mungkin emang ga perlu serepot itu. Ya,tapi jangan nyante teuing juga ya, Mam.

Mukhsin, paling konkret dengan karya-karyanya :’) ga ngerti lagi sama dia. Yah, liat aja baligho-baligho yang beredar, Ucinlah biang keroknya.

Iva, yang ga pernah ngecewain. Masa ya, saya berniat mau bikin notulensi rapat untuk kestara biar sesuai format, pas di cek, ternyata udah sesuai formatnya. Gimana ga speechless membatu di depan laptop coba.

Zahra, pemred Visus edisi mendatang, sangat mendatang! Semangat bu! Jangan keseringan sakit ya :) Harus sayang sama badan sendiri. Gigit loh kalo lupa makan, Za. :D

Nenden, orang paling panikan yang pernah saya temui di Medinfo. Hehehe (berarti ada yang lebih lagi, Nenden, tenang aja).  Semangat! Kita belajar barengan disini ya :D

Yap. Too good to be true. Bikin saya malu, emang syukur saya udah sebanyak apa ya? Astaghfirullah.

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” QS. Ibrahim 7

Lurusin niat lagi, makin bersabar, makin bersyukur, dan ga pernah berhenti berdoa.

Semoga Medinfo tahun ini bisa lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya. Makin konkret. Ga Cuma full team pas rapat aja, tapi juga full karya nyatanya. Semangat terus minimal sampe Desember nanti! Kita akhiri kepengurusan tahun ini dengan husnul khatimah. Amin :’)

Spesial buat kalian, semoga UTS besok lancar, berkah, dan bernilai ibadah.

PS. Saya ga anti Net Meet lagi gara-gara ulah kalian. Gracias muchas :)

97 hari yang lalu! (1/2)


97 hari yang lalu Senat Mahasiswa FK Unpad periode 2012 dilantik di sidang awal tahun. Waktu itu di A53, kalau ga salah berarti bener, dan ketua senat lagi sakit. Dari pertama ketemu sama tim ketua, itu sore-sore tanggal 1 Desember 2011, udah kebayang banyak hal. Yang paling lantang di bayangan saya adalah suara, “PUS! BERANI-BERANINYA YAH KAMUUU!!!”

***

Ada 2 hal di Medinfo tahun ini, yang sama dan yang beda.

Persamaannya, deskripsi kerja sama seperti tahun sebelumnya. Ini bisa kita simpulkan hanya dengan melihat namanya, Media Informasi. Secara sederhana, kami berperan dalam penyebarluasan informasi secara tepat sasaran.

Sedangkan perbedaannya adalah:

1. Medinfo pindah ke atas.

Semula, Medinfo berada di dalam Bidang Eksternal dan Sospolmas. Akan tetapi, posisi ini dinilai kurang tepat karena membuat alur informasi menjadi terlalu panjang. Maka Medinfo ditarik ke atas, menjadi bagian dari tim ketua. Asalnya kan tim 5 (ketua, sekjen, kabid 1, kabid 2, dan kabid 3), sekarang jadi tim 6 deh ditambah koordinator staf ahli medinfo.

2. Kesma dihapuskan.

Dengan berbagai pertimbangan ya, mungkin akan dibahas di lain tempat. Hanya saja intinya, karena tidak ada Kesma, fungsinya dipindahkan sebagian ke Medinfo dan sebagian lainnya ke Pendpro. Medinfo memegang peranan untuk menyebarluaskan info beasiswa yang semula dipegang oleh Kesma.

3. Kastil pindah ke Bidang Eksternal dan Sospolmas.

Apa hubungannya dengan Medinfo? Semula Kastil berada di Bidang Pengembangan Potensi Mahasiswa dengan salah satu fungsinya adalah mencerdaskan mahasiswa FK dengan hasil kajiannya. Akan tetapi, tahun ini Kastil dipindahkan ke Bidang Eksternal dan Sospolmas karena akan lebih fokus untuk menghasilkan kajian-kajian ke eksternal. Oleh karena itu, Medinfo mengambil alih fungsi Kastil dalam mencerdaskan mahasiswa FK.

4. Ganti nama.

Media Informasinya sih tetep, tapi yang asalnya “Seksi”, berubah menjadi “Staf Ahli”. Saya pribadi sih merasa nama ini agak kurang ramah lingkungan (no offense loh, pak bos :D ). Sok aja denger, Staf Ahli Media Informasi. Coba ulangi lagi 4 kali. Kurang ramah kan? Hehe. Tapi setelah saya dan teman-teman studi banding ke FK UI, mereka juga ada staf ahli — banyak malah, jadi ga sendirian deh. *mental lemah*

***

Nah kan, dengan semua ini, berani-beraninya saya. Astaghfirullah. Kalau ga mau diambil pusing sih, sebenernya tugas Medinfo itu sederhana aja, gitu-gitu doang (nyemmm). Tapi ya kalo sendirian juga masyaallah *geleng-geleng* (Ga sendiri juga sih, kan ada tim 16 yang selalu bantuin :) ). Medinfo merupakan salah satu bagian senat yang langsung bertugas saat belum ada staf. Informasi mesti tetep jalan. Ga ringan, tapi bukan hal yang mustahil. Tapiiiii….. :’’’’

Tapi semua berubah sejak negara api menyerang tanggal 12 Februari 2012. Setelah sekitar 3 hari (waktu kotor) melakukan proses staffing yang alot dan menghasilkan seorang public enemy yaitu Ivan, saya ga sendirian lagi!

Welcome to Mukhsin Kurnia, Adrian Fakhri Ismiarto, Imam Ramdhani Abdurrahman, Iva Tania, Zahra Fitrianti, and Nenden Shinta Mardiana!

Selamat datang, selamat bergabung, selamat terjebak :) Kalian adalah orang-orang yang mesti saya bina, mesti saya upgrade kemampuannya.  6 orang yang mesti saya jamin keberkembangandirinya (naha teu ngeunaheun nya?), mesti saya jamin, tiap dari kalian itu berkembang. Semoga kita bisa jadi 1 tim yang solid dan dengan posisi ini, bisa menjadi golongan orang-orang yang bermanfaat bagi banyak orang.

Semangat berkontribusi ya! :’) Together, stronger.

Bukan review 99, @alniskarissa gapapa ya? :)


99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa by Hanum Salsabiela Rais

My rating: 4 of 5 stars

“Kok udah epilog lagi?” – Saya, beberapa saat yang lalu

***

Saya kayanya ga akan ngeriview isi bukunya gimana dan ga akan sebagus Irma dalm beropini. Karena saya yakin, baca sendiri lebih asik :) #tetep gapapa ya, nis! hehe

***

Kalo waktu SD, pas waktu istirahat, saya dan teman-teman suka ke perpustakaan. Perpustakaannya bagus loh! Lesehan, berkarpet, dan dindingnya bukan cat biasa, tapi lukisan! Lukisan itu bikinan A Dana. Cozy banget ^^ Suka lomba-lombaan sama temen minjem serial lima sekawan, sapta siaga, buku FLP, apapun deh yang ada di perpus. Terus bangga gitu besoknya udah tamat dan bisa minjem buku yang baru (ketauan pulang sekolah lain belajar, malah baca novel). Terus jamannya baca Harry Potter. Sampe hapal dialog, mantra-mantra, bab, nama orangnya.. haha segitunya.

Waktu SMP, hampir setiap hari ke Gramed merdeka da sekalian pulang atau ke Tri-A. Tidak lain dan tidak bukan untuk baca komik, novel, atau teenlit. Gitu-gitu lah standar SMP bacaannya. Yang paling berkesan ya pas baca Lukisan Hujan, Sitta Karina. Sampe-sampe mamah saya saat ini juga penikmat tulisan Sitta Karina. Berawal dari sini nih.

Di SMA, saya mulai dikenalkan sama bacaan yang lebih berkualitas. Maksudnya, saya tahu buku apa yang emang butuh saya baca dan buku apa yang ingin saya baca. Kadang seringkali, buku yang butuh saya baca ga semenarik buku yang ingin saya baca.

Intinya mah, dari SD sampe sekarang, saya hobi baca buku (syarat dan ketentuan berlaku). Setiap minggu pasti ada list tambahan buku yang harus dibaca. Dan saya semangat banget untuk memperpendek list yang udah saya buat. List buku wajib baca, list buku wajib beli, nabung. Indah banget :) Ini sebenernya yang agak hilang akhir-akhir ini. Jadi jarang baca buku. Satu buku masa bacanya satu bulan, plis lah -__-“ Malah ada yang ga tamat-tamat.

Daaaan, semua berubah saat negara api menyerang saya baca postingan Irma tentang buku ini.

Saya udah pernah liat nih bukunya di Gramed. Udah masuk list, tapi bukan yang prioritas. Mau langsung beli, tapi mahal nyaris 70ribu, ga punya duit. Ntar deh di BBC atau Rumah Buku. Ntar-ntar aja deh nabung dulu. Lagian pengen beli Rumah Cokelat juga.

Tapi, semua berubah saat negara api menyerang saya baca postingan Irma tentang buku ini.

Saya jadi ngotot banget pengen baca dan beli juga. Juan nawarin. Katany di FISIP senin ntar dijual dengan harga 55ribu. Cukup menarik. Tapi itu masih hari senin! Saya nyoba jalan lain. Ngajakin Irma, Mirnov, Ai ke ganyang, ke bang Irfan. Ada! Harga? 55ribu. Kata Irma dia belinya 48ribu di rumah buku. *ga mau rugi* Saya akhirnya ke rumah buku dan memang kenyataannya demikian. Sampe 31 Maret nanti, buku-buku terbitan Gramedia dan Elex diskon 30%! Alhamdulillah :)

Dan terjadilah, saya tenggelam sama kisah-kisahnya. Dalam sehari beres sudah.

Saya emang suka banget sama tipe buku sejarah yang bukan sejarah. Ini perpaduan laporan perjalanan dengan sejarah dengan renungan pribadi sang penulis. Apalagi ini tentang eropa dan Islam. Hmm mantep banget.

Saya baru tau fakta bahwa Croissant itu aslinya dari Wina, Cappucino itu dari Turki, Tulip itu dari Attonia Turki yang dikembangkan oleh Belanda, relief-relief dan bordiran di lukisan-lukisan yang ada di museum itu apa, ya dari buku ini.

Jadi makin pengen keliling eropa kan kan kan. Terus pengen guidenya macem Fatma dan Marion. Juga semakin terbayang. Kalo sering baca TL kang Hafidz, ya inilah wajah eropa sekarang. Dimana sebagian besar penduduknya kalo ga atheis, paling banter ya agnostik, sebagian besar loh ya, bukan semua.
Saya sebenernya ingin bertanya:

1. Kenapa judulnya 99 cahaya? Apa biar menarik atau ada arti khusus?

2. Karena sebenernya ini novel tapi bukan novel juga, apa tempat dan sejarah yang dituliskan disini memang benar sesuai fakta? (berhubung kalo kuliah cuma boleh pake literatur terpercaya). Tapi sebenernya mah, berarti saya yang harus nyari tahu lebih banyak ya.

3. Kok jarang dokumentasi pribadi ya? Padahal banyak kalimat yang menyatakan mas Rangga atau mbak Hanum motret sana-sini. Ternyata terjawab di akhir, hard disk tempat nyimpen datanya jatuh, sodara-sodara! :( Sayang sekali. Tapi tak apa. Malah bikin imajinasi saya semakin liar dan penasaran pengen nyaksiin sendiri. Terus so sweet kata mas Rangganya yang kira-kira, “Meski sebagian foto tak terselamatkan, tapi kita masih bisa menyelamatkannya dengan menuliskannya.” :3 Ha! Travel writer!

Ada lagi pertanyaan ga penting tapi agak annoying karena selalu menghantui sampe akhir, “Kenapa alignmentnya ga justify aja?”

View all my reviews

Travel Writer by @Gol_A_Gong


TE-WE (Travel Writer) : being traveler, being writerTE-WE (Travel Writer) : being traveler, being writer by Gol A Gong

My rating: 4 of 5 stars

Meski sering ga dibolehin bepergian jauh (mungkinkah karena ayah saya orang Sunda?) tapi saya sebenernya suka, exited, pengen keliling Indonesia, pengen keliling dunia, pengen menjelajah, pengen pergi ke 1 tempat tapi bukan tempat “biasa”. Dan buku ini adalah salah satu buku yang sangat mirip tas ikan saya. Menggoda gitu, bukunya genit, bikin makin pengen jalan-jalan.

Isi buku ini sebenarnya bukan novel atau cerita fiksi, tapi lebih ke tips bagaimana menjadi travel writer. Yah, kaya judul bukunya. Yang saya suka, buku ini ga cuma sekedar tips how to be a travel writer, tapi banyak kisah nyata yang dialami sendiri oleh penulis, Kang Gong (sok kenal banget ya hehe) dan juga beberapa travel writer lainnya seperti Trinity (Ingat “Naked Traveller”?). Dan subhanallah, pengalaman keliling dunia Kang Gong itu biayanya rata-rata dari hasil tulisan pengalaman beliau selama melakukan perjalanan. Sukaa

Seru banget deh, bacanya. Banyak info link-link yang bisa kita kunjungi biar tau lebih banyak soal backpack, travelling, dll.. Saya baru tahu juga, ada komunitas traveller muslimah :3 Bukunya ringan (dari segi isi dan fisik karena hanya 103 halaman), enak dibca, banyak contoh-contoh tulisan juga (bahwa travel writer tuh ga cuma nulis laporan perjalanan pukul ini ngapain pukul sekian dimana).

Selamat menjelajah bumi Allah dan selamat menuliskannya kembali!

Ingat: dunia milik orang-orang pemberani! (Gol A Gong)

View all my reviews

99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa


Saya belum baca dan sangat ingin baca dan insyaallah akan segera baca. Ini biar manas-manasin aja. :D

Aku mengucek-ucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu. “Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum,” ungkap Marion akhirnya.

***

Apa yang Anda bayangkan jika mendengar “Eropa”? Eiffel? Colosseum? San Siro? Atau Tembok Berlin?

Bagi saya, Eropa adalah sejuta misteri tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, peradaban keyakinan saya, Islam.

Buku ini bercerita tentang perjalanan sebuah “pencarian”. Pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini.

Dalam perjalanan itu saya bertemu dengan orang-orang yang mengajari saya, apa itu Islam rahmatan lil alamin. Perjalanan yang mempertemukan saya dengan para pahlawan Islam pada masa lalu. Perjalanan yang merengkuh dan mendamaikan kalbu dan keberadaan diri saya.

Pada akhirnya, di buku ini Anda akan menemukan bahwa Eropa tak sekadar Eiffel atau Colosseum. Lebih… sungguh lebih daripada itu.

***

“Buku ini berhasil memaparkan secara menarik betapa pertautan Islam di Eropa sudah berlangsung sangat lama dan menyentuh berbagai bidang peradaban. Cara menyampaikannya sangat jelas, ringan, runut, dan lancar mengalir. Selamat!”
–M. Amien Rais (Ayahanda Penulis)

“Pengalaman Hanum sebagai jurnalis membuat novel perjalanan sekaligus sejarah ini mengalir lincah dan indah. Kehidupannya di luar negeri dan interaksinya dengan realitas sekulerisme membuatnya mampu bertutur dan berpikir ‘out of the box’ tanpa mengurangi esensi Islam sebagai rahmatan lil alamin.”
–Najwa Shihab (Jurnalis dan Host Program Mata Najwa, Metro TV)

“Karya ini penuh nuansa dan gemuruh perjalanan sejarah peradaban Islam Eropa, baik pada masa silam yang jauh maupun pada masa sekarang, ketika Islam dan Muslim berhadapan dengan realitas kian sulit di Eropa.”
–Azyumardi Azra (Guru Besar Sejarah, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN, Jakarta)

“Hanum mampu merangkai kepingan mosaik tentang kebesaran Islam di Eropa beberapa abad lalu. Lebih jauh lagi, melihat nilai-nilai Islam dalam kehidupan Eropa. Islam dan Eropa sering ditempatkan dalam stigma ‘berhadapan’, sudah saatnya ditempatkan dalam kerangka stigma ‘saling menguatkan’.”
–Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina dan Ketua Indonesia Mengajar)