MENIKMATI HAFALAN DALAM JAMUAN MUROJAAH & QIYAMULLAIL


Oleh : Ust. Suherman

Dalam proses menghafal Qur’an, yang paling prinsip adalah lurusnya niat dan kekuatan ruhiah yang menopangnya. Namun secara ikhtiari kita juga harus menyiapkan perencanaan yang jelas untuk menggapai cita-cita menjadi seorang “Penjaga Qur’an”.

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr : 18)

 

Salah satu proses untuk memiliki hafalan Al Qur’an yang mutqin adalah memiliki program tilawah, ziyadah dan murojaah yang teratur. Hal  ini patut difahami, agar tidak hanya berhenti sebatas menyelesaikan setoran 30 juz. Tilawah berfungsi untuk mengakrabkan dan melakukan percepatan pertemuan dengan ayat yang sedang dihafal. Sedangkan murojaah yang teratur dan terstruktur berfungsi agar hafalan tidak cepat hilang dan agar kita makin merasakan kenikmatan memiliki hafalan – seberapapun banyaknya hafalan kita – serta menghindari kejenuhan, rasa letih dan futur dalam menghafal Al Qur’an.

 

Di antara proses murojaah yang paling efektif adalah menggunakan hafalan yang kita miliki dalam Qiyamullail dan Yaumul Qur’an pribadi, sehingga seiring bertambahnya hafalan, maka semakin nikmat Qiyamullail kita dan semakin rindu untuk selalu bersama Qur’an.

 

Sulit rasanya memiliki hafalan yang mutqin dan mampu menikmati hafalannya, jika seorang santri/santriwati penghafal Al Qur’an terlalu banyak tidur, layaknya orang yang tidak menghafal Kalam-Nya. Ini pernah diungkapkan  Imam Ibnu Mas’ud ra., “Seorang penghafal Al Qur’an harus dikenal dengan malamnya saat manusia tidur, dan dengan siangnya saat manusia sedang tertawa, dengan diamnya saat manusia berbicara dan dengan khusyu nya saat manusia gelisah”.

 

Berdasarkan pengalaman penulis selama ini dalam membimbing program tahfizh Al Qur’an, secara umum biasanya para santri/santriwati peserta program tahfizh Al Qur’an mampu menyelesaikan hafalan 30 juz (ingat, belum termasuk murojaahnya) dalam rentang waktu 3 tahun. Ini adalah rata-rata waktu yang mampu dicapai oleh peserta tahfizh yang “non takhosus”. Biasanya mereka adalah para pelajar atau mahasiswa, yang ingin menghafal Qur’an tanpa harus mengabaikan aktivitas belajar/kuliah di kampusnya.

 

Jika target yang ditentukan adalah selesai ziyadah 30 Juz dalam waktu 3 tahun, maka pola yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut :

 

1. Ziyadah atau menambah Hafalan 1 Juz/bulan

 

    Untuk mencapai target ini, maka bisa melakukan upaya :

    1.1. Menambah hafalan baru 1 pojok atau 1 halaman per hari

 

    1.2. Tentukan waktu khusus dalam 1 hari untuk manambah hafalan Al Qur’an (misalnya sebelum atau  sesudah   Qiyamullail,  ba’da shalat fardhu, atau waktu-waktu lainnya)

 

    1.3. Jika sulit meluangkan waktu khusus, maka tambahlah hafalan baru setiap ba’da sholatsebanyak sekitar 3 baris dalam 1 pojok (tergantung panjang ayat atau sesuaikan dengan tempat waqaf bacaan kita sendiri).

 

    1.4. Setiap hari sebelum tidur, ulang dulu/murojaah hafalan baru yang kita dapatkan sebanyak 20 kali (usahakan ditasmi’kan dengan lancar). Bisa minta bantuan keluarga, teman kost atau direkam untuk mengoreksinya.

 

 

2. Tilawah 3-5 Juz/hari

 

    2.1. Tilawah 3-5 juz/hari adalah kebiasaan tilawah minimal yang harus dilaksanakan oleh seorang penghafal Qur’an. Ini bisa dilakukan sekali duduk ataupun bisa dicicil dengan melaksanakannya setiap ba’da shalat fardhu.

 

    2.2. Secara bertahap, kuantitas tilawah harus terus ditingkatkan, dari mulai 1 juz/hari dicicil menjadi 1 juz/hari sekali duduk. Lalu bertahap menjadi 2 juz/hari, 3 juz/hari sampai 5 juz/hari.Standarnya adalah tilawah 3 juz/hari sekali duduk, dan idealnya adalah 5 juz/hari.

 

 

3. Murojaah

 

    3.1. Gunakan hafalan baru hasil ziyadah di hari tersebut dalam Qiyamullail. Untuk akhwat yang sedang haidh harus tetap  bangun  dan murojaah untuk menjaga iltizam dan menjaga metabolisme tubuh agar tetap terbiasa bangun malam. UraianContoh Program Qiyamullailnya adalah sbb:

 

           a. Hari ke-1, tiap rakaat membaca 1 pojok  ziyadah baru

           b. Hari ke-2, rakaat ganjil membaca ziyadah pojok baru dan rakaat genap murojaah hafalan lama

           c. Hari ke-3, rakaat ke-1 membaca ziyadah pojok baru, rakaat ke-2 murojaah hafalan hari ke-1 dan rakaat ke-3 murojaah hafalan hari ke-2. Gunakan pola tersebut ke rakaat berikutnya

           d. Hari ke-4, rakaat ke-1 membaca ziyadah pojok baru, rakaat ke-2 sampai 4 murojaah hafalan lama. Sholat witir gunakan seluruh hafalan yang sudah kita miliki (4 halaman)

           e. Hari ke-5, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (tiap rakaat 1 halaman)

           f. Hari ke-6, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (total 5 halaman)

           g. Hari ke-7, rakaat ke-1 sampai ke-4 membaca ziyadah pojok baru, rakaat 5-8 murojaah hafalan lama (total 6 halaman)

           h. Begitu terus setiap hari, selalu memurojaah hafalan baru tanpa meninggalkan hafalan lama, selama rentang 1 bulan.

 

Jika kita konsisten dengan pola ini (atau bisa membuat pola sendiri), maka secara bertahap panjang Qiyamullail kita bertambah panjang setiap hari, sehingga tanpa terasa dalam rentang 1 bulan kita sudah mampu Qiyamullali sebanyak 1 juz.

 

Agar terjaga konsistensinya dan tidak merasa berat menjalankannya secara bertahap, mintalah selalu arahan dan bimbingan dari Muwajjih untuk membuat program Qiyamullail yang sesuai dengan perkembangan hafalan kita. Seorang muwajjih yang baik tentu akan membuat program Qiyamullail yang tidak sama persis antara satu santri dengan santri lainnya.

 

Secara bertahap, kita harus meningkatkankuantitas hafalan dalam Qiyamullail dan secara bertahap pula meningkatkan kualitas Qiyamullailnya. Semakin banyak hafalan kita, maka seharusnya semakin panjang dan semakin nikmat pula Qiyamullail kita.

 

Betapa Qudwah kita, Rasulullah saw. telah memberi contoh tentang kenikmatan Qiyamullail yang berbanding lurus dengan kekuatan hafalan dan tadabburnya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Huzaifah ra. bahwa ia berkata,  “Aku pernah mengerjakan shalat bersama Nabi saw. pada suatu malam. Beliau membuka rakaat dengan bacaan surat Al Baqarah, dan baru ruku  kira-kira pada ayat keseratus. Beliau melanjutkan shalatnya, kemudian membaca lanjutan surat Al Baqarah pada satu rakaat berikutnya hingga selesai, baru kemudian rukuk. Pada rakaat berikutnya beliau membaca surat An Nisaa hingga selesai, dan dilanjutkan dengan membaca surat Ali Imran secara perlahan hingga selesai pula. Jika melewati ayat yang berisi tasbih, beliau pun bertasbih, jika melewati ayat tentang permohonan beliau pun memohon, dan jika melewati ayat tentang perlindungan maka beliau pun memohon perlindungan. Sesudah itu, beliau pun rukuk dan membaca, Subhaana Robbiyal  ‘Azhiim (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung).” Lama rukuk beliau kurang lebih sama dengan lamanya berdiri. Sesudah itu, beliau mengucapkan, “Sami ‘Allohu liman hamidah (Alloh Maha Mendengar orang yang memuji-Nya).” Sesudah itu, beliau berdiri lagi cukup lama, kurang lebih hampir sama dengan waktu rukuk. Selanjutnya, beliau bersujud dan membaca “Subhana Robbiyal A’laa (Maha Suci Alloh Yang Maha Tinggi).” (HR. Abu Dawud).

 

Silakan hitung berapa juz total Qiyamullail yang dilakukan Nabi saw. pada malam tersebut.

 

Abdullah bin Rawahah ra. berkata tentang Rasulullah saw, “Beliau tidur malam (hanya sebentar), lambungnya jauh dari tempat tidurnya. Walaupun sebenarnya bagi orang-orang musyrik meninggalkan tempat tidur itu sangat berat.” (HR.  Bukhari).

 

Jadi, sudah jelas bahwa seorang penghafal Al Qur’an yang terlalu banyak tidur, pada hakikatnya belum merasakan kenikmatan menghafal Al Qur’an dan belum merasakan kenikmatan hafalan Al Qur’an di dalam dadanya.

 

   3.2. Jika sudah memiliki hafalan sekitar 1-3 juz, maka biasakan memiliki jadwal Yaumul Qur’an mingguan, misalnya di akhir pekan untuk mentasmi’kan hafalan yang dimiliki (diluar jadwal qiyamullail). Biasanya waktu yang dibutuhkan sekitar 2.5 jam non stop.

 

Agar kita fokus hanya untuk berta’amul ma’al Qur’an saat Yaumul Qur’an, maka disarankan untuk mematikan semua alat komunikasi dan tidak melakukan aktivitas apapun kecuali hanya bersama Al Qur’an (kecuali saat shalat, makan dan membuang hajat).

 

   3.3. Jika sudah memiliki hafalan sekitar 4-10 juz, maka biasakanlah memiliki jadwal Yaumul Qur’an bulanan untuk mentasmi’kan hafalan yang dimiliki.

 

   3.4. Jika sudah menyelesaikan setoran hafalan 30 juz, maka biasakanlah memiliki Yaumul Qur’an 2 kali dalam setahun. Yaumul Qur’an pada 6 bulan pertama biasanya dilaakukan sendirian, dimana pada hari tersebut aktivitas kita hanya murojaah seluruh hafalan yang kita miliki. Jika dimulai ba’da subuh maka sampai isya biasanya sudah beres murojaah antara 15-20 juz (tergantung kelancaran hafalan kita dan tingkatan bacaannya). Lalu disambung murojaahnya dalam qiyamullail (sekitar 5 juz), dan sisanya dituntaskan kembali sampai sebelum zhuhur. Berdasarkan pengalaman, biasanya untuk murojaah 30 juz butuh waktu 2 hari 1 malam, jika hafalan lancar. Bahkan masih memungkinkan untuk kita mentadabburi beberapa juz atau surat atau pojok atau ayat yang sudah kita hafal.

 

Yaumul Qur’an 6 bulan yang kedua, biasanya dilakukan bersama guru kita. Artinya ini adalah periode untuk mencek ulang seluruh hafalan kita di hadapan guru. Karena itu, kita harus mengalokasikan waktu khusus dan menyesuaikan dengan waktu yang dimiliki oleh guru kita. Biasanya guru kita akan mengalokasikan waktu sekitar bulan rajab, sya’ban atau bahkan ramadhan, dan kita harus siap “mengejar dan mendatangi” dimana guru kita berada.

 

Itulah sebenarnya esensi menghafal Al Qur’an, bukan untuk dibanggakan di hadapan manusia, tetapi untuk dinikmati dalam Qiyamullail, menikmatinya dalam muroja’ah, merasakan keagungan kalam Alloh saat tadabbur. Semakin sering muroja’ah, semakin terasa kenikmatannya, semakin kuat hafalannya dan semakin meningkat kualitas Qiyamullailnya.

 

Jadi, mari kita nikmati hafalan kita, kita nikmati jadwal bertemu guru untuk ziyadah dan murojaah, kita nikmati seluruh prosesnya walau harus mengulang, mengulang dan mengulang. Tak ada sedikitpun kerugian dari proses pengulangan tersebut karena semakin sering diulang makin banyak keberkahan yang didapatkan, makin akrab ayat yang dihafal dan terasa nikmat saat sudah hafal.

 

Dan lebih nikmat lagi saat kita mentadabburinya dalam Qiyamullail, sehingga terbangun motivasi untuk mengamalkannya….

 

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (QS. Al Muzzammil: 1-8)

 

Untuk seluruh anak-anakku para santri dan santriwati penghafal Qur’an, selamat menghafal, semoga Alloh swt. Memberkahi ananda semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s