Aside
0

Selasa, 24 Desember 2013 kemarin adik saya dibagi rapot. Sebagai kakak yang peduli, saya ikut. *haha padahal ada udang di balik batu.* Sebelum berangkat, ayah saya mengajak adik bungsu saya untuk ikut. Tapi dia menolak karena lagi hobi main dan beternak ikan cupang. Sama main futsal sama anak-anak tetangga. Pokonya main mulu deh kerjanya. Akhirnya, hanya adik bungsu saya yang ga ikut. Kami berlima sisanya ikut (mama papa fuji dafin saya). Sebelum berangkat, saya konfirmasi ulang kepada adik bungsu saya, apakah memang dia tidak akan ikut? Karena mungkin (kemungkinan besar) nanti akan menyesal, soalnya ada udang dibalik batu. Dia pun menjawab dengan yakin, TIDAK. Yasudahlah terserah, tak apa.

Selesai mengambil rapot adik saya, kami sekeluarga (minus adik bungsu saya), shalat zuhur di masjid Al Ikhlas yang dibelakang BIP. Terus selesai solat pas lagi jalan kaki, ketemu sama Nuri yang bau beres sidang, lagi jalan sama Mas Aris (so kenal banget sih saya hahaha). Kita pun bertukar sapa sejenak.

Selesai solat zuhur, kita semua langsung menuju tempat untuk membeli udang di balik batu. Fuji nonton aja, soalnya dia udah beli udang yang lain di hari sabtu kemarin. Di sisi lain, saya memotivasi adik saya yang lain untuk ikutan beli udang juga, jangan cuma pasrah aja, mumpung ditawarin. Bujuk-bujuk papah untuk beli udang jenis tertentu. Akhirnya Alhamdulillah selesai. Sebelum keluar dari toko udang di balik batu, mamah mengingatkan untuk tidak memperlihatkan udang di depan adik bungsu saya. Suka ga terduga, nanti bisa-bisa ngamuk. Kami berlima pun sepakat untuk diam-diam saja.

Ketika sampai rumah, suasana tenang. Saya melihat-lihat udang di kamar. Tiba-tiba terdengar dari lantai bawah, papah dan adik bungsu saya bercakap mengenai udang saya. Dalam hati saya mikir, lah, bukannya tadi kesepakatannya diem-diem aja yaaa? Hahaha. Obrolan di lantai bawah menghilang, disusul suara kaki adik bungsu saya yang berlari ke lantai 2.

“Teteeeeeh, mana sini aku mau liat udangnya. Beneran cuma liat!” Lalu kepalanya muncul dari balik pintu kamar saya yang tiba-tiba terbuka. Dia datang sambil membawa bungkus energen kosong yang dengan segera saya sambut dengan ucapan, “Awas bisi muruluk ntar banyak semut.”

Yah, terserah deh kalau dia minta udang juga. Papah sendiri yang ngasih tau soalnya. Dan adik bungsu saya memang hanya melihat dan segera berteriak ke arah papah, “Aku juga mau yang kaya teteh boleh ya pah?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s