2 orang / angkatan?


Sungguh kombinasi yang mengagumkan *kalau tidak dibilang mengerikan* jika mahasiswa yang “apatis” (ga tega bilangnya, tapi yg paling deskriptif emang kata ini. Mungkin saya juga termasuk) bertemu dengan ketidak-optimalan pewarisan nilai.

Masalahnya sederhana, tentang kuorum sidang dalam lingkup kemahasiswaan di FK Unpad.

9 September lalu, DPM mengundang berbagai elemen kemahasiswaan FK Unpad untuk mendatangi Sidang Evaluasi Tengah Tahun. Menurut peraturan sidang, acara ini baru bisa dimulai jika kuorum sudah tercapai, yaitu 1/2n+1 yang terdiri dari DPM dan perwakilan angkatan @2 orang sebagai peserta penuh.

Waktu itu, salah satu peserta sidang ada yang bertanya kepada presidium, dari mana angka 2 orang ini muncul? Karena, tidak adil rasanya jika 12 orang *1% dari 1200 mahasiswa* (2 orang x 3 angkatan) inilah yang nantinya menentukan masa depan kemahasiswaan FK Unpad. Ibaratnya, kalau kata Bos, jika PH, Hima dibilang gagal sama 12 orang ini, maka gagal-lah. Kalau mereka bilang, bubar aja kemahasiswaan, maka bubarlah. Itu ekstrimnya.

Dengan rasionalisasi lainnya *yg mengarah ke tidak setuju 2 orang*, suasana sidang pun terasa gelisah. Akhirnya, ada peserta sidang yang menimpali, bahwa seharusnya, aturan mengenai 2 orang per angkatan ini sudah tidak perlu dibahas lagi dalam forum karena peraturan yang ada sudah disahkan di sidang sebelumnya.

Karena suasana tidak mereda, akhirnya peserta lainnya, yang juga ternyata dulunya tim adhoc, memberikan penjelasan. Mengapa muncul angka 2 orang? Sesungguhnya yang dimaksud 2 orang ini adalah 2 orang tetap (macem dewan) perwakilan angkatan yang memantau kemahasiswaan, dari awal sidang-kegiatan kemahasiswaan-sampai masa LPJ nanti, secara menyeluruh dan tanpa memiliki kepentingan tertentu untuk member insight dari luar. Macem Mario Teguh yang dateng ke suatu perusahaan yang curhat mengenai masalah di perusahaan tersebut. 2 orang ini minimal aja, semakin banyak justru semakin baik. Tapi 2 orang ini diharapkan menjadi orang-orang konsisten yang pada akhirnya membagikan pengetahuan dan perkembangan kemahasiswaan ke angkatannya masing-masing. Kalau di sidang sendiri, ya untuk memberikan insight dari luar orang-orang yang punya interest (sebut saja pengurus organisasi). Kembali lagi ke “Kenapa 2?”. Ya, ini langkah relistis aja. Kejadiannya musma dari tahun ke tahun, selalu kurang kuorum. Kalau kaya gini terus, ya ga jalan-jalan. Lama-lama ya akan ga kondusif. Padahal kita tahu sendiri, puncak dari hierarki kemahasiswaan adalah kongres. Banyak hal krusial bisa dihasilkan disini.

Garis besarnya seperti itu.

Dan justru hal seperti itu yang tidak diketahui, bahkan oleh pemilik hajat Sidang Evaluasi TT ini. Anehnya, beredar asumsi dan bahkan dibenarkan, saat 2 orang perwakilan itu “asal comot” dari yang “kebetulan” hadir di sidang kemarin. Padahal, jika hal ini sudah dipahami oleh semua peserta, terutama pemilik hajat, tentu bisa semakin mengefisienkan jalannya sidang. Ga usah debat dulu tentang ini. Sampe panjang.

Saya bukan mau cerita tentang sidangnya sih, meski udah terlanjur. Haha. Dan bukan mau menyalahkan pihak-pihak tertentu juga. Yang jelas saya banyak belajar di sidang kemarin.

Nah, yang saya garis bawahi adalah mengenai pewarisan nilai ini. Bayangin aja apa jadinya sidang kemarin kalau tim adhoc yang bikin aturan sidang ga dateng. Ga ada yang ngerti. Bakal panjang banget. Ini hanya contoh kecil saja.

***

Di FK Unpad, saya dibesarkan melalui budaya diskusi yang kental dan saya bangga akan hal ini. Mungkin, terpengaruh sistem pendidikan yang menggunakan tutorial. Melalui berbagai diskusi inilah, saya banyak mengenal kakak-kakak yang hebat. Dan melalui diskusi-diskusi inilah, saya banyak terpapar oleh berbagai value juga pola pikir. Diskusi sejarah kemahasiswaan, diskusi permasalahan kontemporer, sampai hal-hal prinsipil lainnya.

Ini semua banyak saya dapatkan melalui diskusi. Seperti itu pula teman-teman saya. Pola yang mirip. Mungkin hanya beda orang saja, siapa yang memberi paparan. Ya. Sebuah proses pendewasaan.

Yang menjadi permasalahan adalah, tidak ada *mungkin jarang* rekaman tertulis mengenai berbagai hasil diskusi ini. Alhasil, terjadi reduksi informasi. Dan yang paling fatal kalau lupa. Generasi yang meneruskan kebingungan. Ga paham alasan dan latar belakang. Nanti mulai lagi dari 0. Sungguh sangat disayangkan.

Apa yang terjadi di sidang kemarin itu hanya dampak. Dampak dari ketidak tuntasan pewarisan nilai.

***

Yah, mungkin, kita harus bergegas untuk membangun budaya menulis.

*pus, berhenti (hmm atau kurangi) nulis curhat ga penting*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s