Penyebab Jempol Atropi


Waktu itu saya tahun 1 dan sedang tergabung dalam tim kurkes. Ketuanya Teh Fulki. Teh Fulki menjarkom semua tim kurkes. Lalu yang lucu sekaligus ngeri, diakhiri dengan, “Yang ga konfirm, jempolnya atropi.” Lain waktu, saya menerima jarkom dari Poundra. Diakhiri dengan, “Yang confirm, didoain SOOCAnya A.” Haha. Mesti banget ya disertai reward dan punishment, meski lewat doa.

Kelamaan mikir, jadi lupa bales sms, terutama yang harus konfirmasi. Lagi rempong, jadi lupa. Lagi ga ada pulsa, ga bisa bales. Banyak alasan. Lalu minta maaf, terlambat sms. Terus berulang.

Dan, ga salah pepatah yang bilang, kita akan menuai apa yang kita tanam. Saat saya ada di posisi penjarkom, seringkali berakhir dengan tidak ada kabar. Not responding. Aaaah, gini ya rasanya. Hehe.

Di lain kesempatan, saya bilang ini ke Poundra. Dan janji akan berubah, karena digantungkan itu ga enak sodara-sodara.  Dia sih cuma ngetawain. Jahat ya. Tapi jadi ngobrol juga tentang ini. Pentingnya budaya konfirmasi. Kasih kabar. Biar ga ada prasangka. Kerja lebih nyaman. Konfirmasi konfirmasi.

Saya ngebayangin, orang jaman dulu, sebelum ada HP, smart phone, juga gadget canggih lainnya, gimana ya mereka bikin janji. Sekarang kan sudah sangat dipermudah oleh teknologi. Tapi malah semakin sulit.

Fenomena. Sangat mudah saya menemukan kejadian ini. Kasusnya sih simple. Bisa rakor, bisa rapat seksi. Biasanya kan ada jarkom, rapat jam x di x tanggal x. Ketika tiba waktunya, yang dateng ternyata tidak semuanya. Tapi ga ada kabar. Rapatnya lanjut ga? Lanjut. Rapat selanjutnya sama. Yang dateng beda orang lagi. Ulang lagi rapatnya dari yang pekan kemarin. Wasting time, wasting energy.

Simple. Dari masalah komunikasi. Dan saking biasanya kita sama keadaan kaya gini, ya udah. Terjadi terjadilah. Nanti jadi masalah internal. Prasangka lagi. Kapan mau maju kalau semuanya diselesaikan dengan prasangka, asumsi.

Padahal, solusinya sungguh mudah. Konfirmasi dan saling perhatian. Apa susahnya konfirmasi. Bisa datang atau tidak. Jika tidak, kenapa. Sesederhana itu. Perhatian sama temennya. Lagi sibuk apa. Masa ga tau kabar sama sekali. *tunjuk diri sendiri*

Apa harus jadi PJ/Kasie/Koor dulu untuk berada dalam keadaan butuh konfirmasi dan saat menjarkom tidak dibalas baru sadar, “Ah, gini ya rasanya… (Ga enak)”? Kadang kalau lagi emosi, ditambah ngedumel-dumel ga jelas. Haha.

Ga perlu lah ya. Cukup belajar dari pengalaman orang lain. Karena hidup kita terlalu singkat untuk mengalami semua kegagalan sendiri. Lebih baik belajar dari kegagalan orang lain, untuk menciptakan lebih banyak kesuksesan.

Mungkin, sesederhana memulai dari konfirmasi🙂

*Ini refleksi untuk diri saya sendiri juga. Mohon maaf untuk pihak-pihak yang merasa pernah dirugikan. Untuk pesan-pesan yang lama dibalas, bahkan tak terbalas. Saya akan berusaha untuk memperbaiki diri.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s