Anak-Anak Angin


Anak-Anak AnginAnak-Anak Angin by Bayu Adi Persada

My rating: 4 of 5 stars

Judulnya yang anti mainstream membuat saya tertarik untuk mengambil buku ini dari display sebuah toko buku. Sebut saja BBC, Palasari Bandung. Yang sering ke BBC Palasari pasti langsung ngebayangin deh. Meski toko buku ini diskonnya gede dan sampulnya gratis, tapi kalau kita ga tau mau beli apa, pasti pusing deh nyari bukunya. Bukan tempat untuk window shopping. Makanya biasanya saya liat-liat di Gramed, catet judul2 buku yang ingin saya beli, lalu ke BBC buat beli bukunya. Dengan berbekal uang 250.000, saya bisa mendapatkan 7 buku. Dimana satu bukunya punya harga normal 60-70ribu. Oke mulai ngelantur. Kenapa pusing kalo window shopping disini? Karena, bayangin aja toko tongkat sihir-nya Olivander yang raknya penuh diisi tongkat dari bawah sampe langit-langit dan lorong antar rak cuma muat buat satu orang. Itulah BBC. Jadi enaknya bawa list judul, terus kita tanya ke petugas. Terus nanti diambilin deh. Nah, bayangin dengan keadaan kaya gitu, saya bisa menemukan buku ini. Tanpa sebelumnya survey ke gramed. Keren kan. Hehe.

Sebenernya saya sudah membaca Indonesia Mengajar 1 dan 2. Tapi pas KKN kemarin, Nuni selalu bawa-bawa buku Indonesia mengajar 1. Dan dia kesenengan sendiri pas baca tulisan Firman. Singkat cerita, dia jadi fans-nya Firman di Indonesia Mengajar 1. Saya inget ini karena 2 alasan. Pertama, Nuni heboh sendiri. Kedua, di desa KKN saya, banyak anak yang namanya Firman. Seenggaknya ada 2 yang saya tau, Firman “Tonggoh” dan Firman “Lebak”. Dan salah satu Firman itu punya kenangan tersendiri sama Nuni. Hubungannya dengan buku ini adalah, penulisnya adalah Pengajar Muda angkatan pertama. Udah. Hehe.

Pasca menamatkan buku ini, saya merasa dekat dengan masyarakat Desa Bibinoi, Halmahera Selatan. Tempat yang nampaknya tidak akan saya ketahui jika saya tidak membaca buku ini. Juga jadi inget pas KKN kemarin. :’)

Pengalaman setahun Pak Guru Bayu disajikan dengan sangat indah dalam buku berjudul Anak-Anak Angin ini. Dimulai dari proses meminta izin kepada kedua orang tuanya, hingga perpisahan dengan masyarakat desa yang mengharukan. Tidak hanya yang indah-indah, tapi juga pengalaman yang kurang mengenakkan. Terlalu nyata. Bagaimana terjadi penyelewengan dana BOS, kenakalan anak-anak yang tak terbayangkan (terutama jika dibandingkan dengan standar penduduk pulau Jawa), kehilangan uang, sakit malaria, dan hubungan yang merenggang dengan Pak Kepala Sekolah karena dana BOS. Tapi semua itu diiringi dengan berbagai kemudahan dan kebagiaan. Saat anak didik mulai menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, bersahabat dengan anak didik, malah dengan penduduk desa juga.

Selain itu, kesan lain yang saya rasakan adalah, jujur. Maksudnya, ada rasa rindu rumah, kesal, kecewa, haru. Makanya saya bilang terlalu nyata. Pasti ini pengalaman yang sangat berkesan. Pengen.

Terakhir, saya akan menutup tulisan ini dengan pesan Pak Anis Baswedan kepada Pak Guru Bayu di halaman akhir buku ini.

“Terus pilih jalan yang mendaki…!”

View all my reviews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s