Anak


3 fase pendidikan anak:

7 tahun pertama, perlakukan anak sebagai raja. Beri apa yang dia mau, kaya raja aja, sambil beri pengertian mana yang boleh dan tidak boleh, salah dan benar.

7 tahun kedua, perlakukan anak sebagai tawanan. Disini mulai diberlakukan reward and punishment.

7 tahun ketiga, perlakukan anak sebagai mitra. Ajak diskusi secara dewasa.

Kira-kira umumnya seperti itu.

***

Saat menghadiri agenda pekanan, dari semula membahas kaidah dakwah kedua, hingga akhirnya membahas mengenai ini. keliatan ga nyambung, tapi saya suka sekali perbincangan sore itu. inspiring!🙂

***

Jadi ada seorang teteh yang mengajar di sebuah sekolah menengah atas. SMA ini sangatlah unik. Ga ada peraturan sama sekali. Sama sekali. Bayangkan!

Kalau ada guru yang memberi “hukuman”, maka guru itu bersalah. Dan karena peraturan “tidak ada peraturan” inilah anak-anaknya bebas lepas berbuat sesukanya. Saya pikir, gila juga ya ada sekolah kaya gini. Anak-anaknya sangat bebas dan malah cenderung ga respek sama guru, kalau dilihat secara umum. Banyak guru yang menjadi korban di kelas, apalagi guru perempuan. Sampe nangis dan berhenti itu hal biasa. Kaya di drama yah. Haha.

Teteh ini, semacam merasa tertantang. Dan jadilah beliau mengeluarkan statemen, “Terserah kalian mau ngapain aja, ibu ga akan marah, ga akan nangis.” Yaaa, agak salah juga sih ngomong gitu, malah jadi sasaran murid-muridnya. Dan, yaaa, terjadilah. Hehe.

Ada 1 poin penting. Meski bebas, ternyata input siswa sekolah ini cukup baik. Karena kebebasan yang mereka miliki, mereka menjadi sesosok soswa yang kritis. Ga langsung nerima saat disuapin. Berarti, tinggal gurunya pandai-pandai mengarahkan. Tentu dengan cara lain karena atauran sangat tidak diperbolehkan.

Suatu hari, saat sang teteh mengajar tentang magnet, seorang siswa nyeletuk, “Ngapain saya belajar ini? Ga ada gunanya!”

Dari sinilah semua itu berawal, diajak diskusi, hingga akhirnya siswa paling “bengal” pun sedikit demi sedikit berubah. Tapi sebenernya, saya bukan mau cerita proses ininya. Ada hal unik lain.

Waktu rapat guru, sang kepala sekolah membawa anaknya yang masih balita. Teteh ga heran kenapa sekolah ini bisa tanpa aturan setelah melihat anak kepala sekolah itu. Selama rapat, sang anak naik ke maja yang sedang dipakai rapat. Lari hilir mudik. Dan melihat ini, sang orang tua diam saja. Anak agak dilarang saat dia menaiki kursi yang agak reyot, takut celaka. Selebihnya, bebaskan saja.

***

Saya jadi pengen cerita tentang anak bungsu orang tua saya. Dia anak laki-laki satu-satunya dan bungsu dan sangat diharapkan. What a combination. Dia punya karakter yang unik. Keras dan lembut sekaligus. Persistent saat menginginkan sesuatu, cuek saat ga suka sama sesuatu (misalnya belajar “mainstream” yang baca buku dan menghapal, dia ga suka, meski uas menghadng, dia main aja dengan cukenya), cerdas (kalo berkomentar itu saya suka ga nyangka dia akan berkomentar seperti itu, kadang kata mamah siga nu geus kolot haha), emosional (jangan tanya kalo lagi marah kaya apa), sekaligus sangat mudah tersentuh (dulu ngambek pas sanya nyetel film hachiko, katanya ga suka. Tapi karena saya keukeuh, dia ga ada pilihan lain selain ikutan nonton. taunya dia sangat terhanyut sampe2 di entah-menit-keberapa dia berbalik dan meminta untuk mematikan filmnya karena alasan yang berbeda dari penolakan awal, yaitu karena dia sedih, kasian sama hachikonya. Dia minta matiin filmnya sambil berurai air mata dalam arti sebenarnya. Saya yang lagi nangis jadi ketawa gegara adik saya ini). Yeah, he is my brother.

Karakternya ini sungguh unik, beda sama kakak-kakaknya yang cenderung ga macem2. Apalagi kalau lagi marah ya, astaghfirullah, itu kaya apaaaaa ngeri lah. tapi semakin lama, adik saya itu semakin bisa mengendalikan emosinya. Pernah suatu hari dia marah ke mamah saya. Mamah saya diam, tidak menanggapi. Lalu saat emosinya reda, adik saya berkata ke mamah, “Mah, maaf ya mugni tadi emosi, ga bisa nahan marah. Habis tadi ga kuat banget pengen marah. Maaf ya mah.” So sweet kan?

Saya punya ibu yang super. Sabarnya super banget ga ngerti lagi. Dan hubungan adik saya dengan mamah itu so sweet. Sering setelah solat magrib dan selesai mengaji, mereka berdua ngobrol sambil cerita di kasur. Atau bada subuh, sambil selimutan. Cerita apapun. Adik saya cerita tentang harinya di sekolah, temen-temennya yang nyebelin menurut dia, dll..

Suatu hari, adik saya bilang gini, ” Mah, kalo marah tuh ya, hati kita item, lagi ditutupin setan.” (semacam itu lah, saya diceritain mamah dan mamah agak lupa adik saya bilang apa.”

Mamah penasaran,  “Mugni tau dari mana?”

“Iya kan kalau sebelum solat Pak Guru suka bilang gini, Rasulullah bersabda…”

Mamah di dalam hati, “ooooh, hadits”

Btw, sampe sekarang mamah sangat berterima kasih sama Pak Guru tersebut.🙂

***

Perlakukan anak sesuai dengan kebutuhannya. Bukan sesuai dengan keinginannya. Mendidik anak supaya tahu benar dan salah, pantas dan tidak pantas, untuk membentuk karakter itu perlu. Kebebasan pun perlu, dengan batasnya, seperlunya, sesuai dengan kebutuhan. Penerapan 3 fase pendidikan di atas bisa tepat, bisa jadi tidak. Yang pasti, sulit menempuh fase terakhir, jika fase awalnya tidak tuntas.

Ini juga hal lain yang membutuhkan kesabaran dan toleransi terhadap kebosanan yang sangat besar. Prosesnya jelas ga instan. Tapi saat perubahan itu terjadi, kita bisa merasakannya.

Ah, saya masih perlu banyak belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s