Bahagia, Sabar, dan Swiss


S: *lagi nyetor, serius, fokus*

US: Udah? Segitu aja setornya? *ke L*

L: Sebenernya ga mau cuma 1 surat, ustadz. Lebar pisan udah jauh2 dateng cuma setor 1 surat. Tapi da gimana tadi malem lasut malah tidur. Cape pisan baru nyampe jam7.

S: *jleb. si gue cuma setor 1 surat*

US: Ya sok atuh tambah.

L: Iya tapi da belum ngapalin.

US: Murajaah sok murajaah.

L: *murajaah surat yang diulang-ulang tiap hari jumat, lalu pabeulit di ayat tertentu*

US: Ulang. *ke L sambil mengetukkan pulpen ke meja*

S: *di saat yg sama lagi murajaah, jadi pabaliut di ayat tertentu, tapi somehow mencapai ayat terakhir dan dengan ga yakin berkata…* udah ustadz

US: *sambil tertawa dan mengetukkan pulpen ke meja, tapi mengarah ke S* ulang.

S: saya salah ya ustadz? *dalam hati, kayanya sih emang ada yang salah tapi dimana ya?*

US: Ayo ulang. *ke S dan L*

S & L: *Mengulang dan masih pabeulit*

L: Ustadz, udah saya mah ah. Ga suka kalo udah salah-salah gini.😦 Udah males duluan.

US: eh, ayo pasti bisa. Kan diulang setiap jumat. biasanya ga pabeulit gini.

L: Iya biasanya ga pabeulit😦 Tapi udah ah, udah ga mood. Males, salah-salah terus dari tadi…

US: eeeeeh, ayo pasti bisa

L: ga ah, ustadz

US: Eh, ini gimana. Ustadznya aja yakin. Masa santrinya nggak.

L:😦

US: sok keluar dulu ngapalin, nanti setor lagi.

L:😦

S: *masih berjuang, tapi pabeulit wae, akhirnya…* hehehe, ustadz, boleh nyontek dulu ga sedikit?

US: Eh, ga ada. Kalo murajaah harus perfect. Kalo nambah, saya bolehin nyontek. Kalo murajaah mah ya harus sempurna. Namanya juga murojaah. Sok, tanya ke yang lain. *menatap ke L & S* sekarang saya tanya, suka diulang2 ga?  Kalo suka, udah berapa kali, 500 kali udah? Kalo udah 500 kali, saya tanya lagi, 10000 kali udah? Kalo udah, sesulit apapun insyaallah bisa. Menjadi seorang penghapal itu bukan tujuan. Menghapal itu adalah proses sepanjang hayat. Saat selesai menghapal satu bagian bukan berati, “yap, sudah selesai.” Tapi proses mengulang-ulangnya itu. Saat mengulang satu surat, bayangkan kalau kita sedang menghapal lagi apa yang kita ulang. Makanya ini adalah proses sepanjang hayat. Nikmati prosesnya.

S:😥 *dalam hati, iya banget*

***

Berdasarkan catatan Eric Weiner, Swiss merupakan salah satu negara paling bahagia di dunia. Sekilas info, karakteristik kebahagiaan di setiap negara paling bahagia di dunia itu berbeda-beda (lengkapnya, saya rekomendasikan Anda untuk membaca The Geography of Bliss). Kalau dilihat secara umum, orang yang sangat kaya itu cenderung tidak sabaran. Nah, tapi bedanya, meski secara finansial berlimpah, mereka memilik 2 hal: kesabaran dan toleransi tinggi pada kebosanan. Itulah hal yang membuat mereka bahagia.

Jadi, apa yang membuat saya menolak untuk bersabar dan menoleransi kebosanan padahal sudah sangat jelas keutamaan para penghapal Al Qur’an?

Tapi kan sabar juga ada batasnya, Pus…..

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

QS Ali Imran 200

Kuatkan kesabaran.

Selama ini, bukan batas kesabaran yang telah dilewati, tapi kesabaran yang melemah. Ya Qawiy, berikanlah kekuatan pada hamba-Mu ini untuk menguatkan kesabaran. Amin.

***

Yang pasti, kesabaran dan menoleransi kebosanan ini dibutuhkan untuk semua hal yang membutuhkan proses yang panjang. Bismillah, ayo luruskan niat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s