Selimut Debu


Selimut DebuSelimut Debu by Agustinus Wibowo

My rating: 5 of 5 stars

Khaak. Debu dan perang. Itulah Afghanistan.

Tapi ternyata, Afghanistan itu lebih dari sekedar “khaak”. Perjalanan yang dialami oleh Agustinus Wibowo menjadi sangat menarik untuk dibaca karena perjalanannya yang tidak biasa. Nyaris seperti menggelandang di negeri orang. Pergi dari satu desa ke desa lainnya, lembah, bukit, sungai, pegunungan, padang pasir, semua dilewati. Itupun dengan menumpang ke Falang Coach, truk, atau kendaraan apapun yang ada. Seringkali dengan ongkos yang sangat mahal karena beliau ini orang asing, terkadang karena beliau dikira etnik Hazara (etnik mongoloid di Afghanistan). Pernah dicopet hingga uang tak bersisa. Pernah ditinggal kendaraan yang janji akan mengangkut.

Tapi dengan perjalanan seperti ini, justru kita bisa ikut mengenal adat kebiasaan di Afghanistan sana. Salah satu hal unik adalah cara salam mereka. Sangat panjang.

“Chetor asti? Khob asti? Jonet jur asti? Sihat khob asti? Famil shoma khob asti? Khona khairiyat ast? Aman asti? Aram asti? Zinda boshi. Monda naboshi. Apa kabar? Baik-baik sajakah? Semangatmu baikkah? Kesehatanmu baik? Keluargamu baik-baik saja? Rumahmu baik-baik? Aman? Santai? Hidup terus. Jangan kecapekan.” Dan masih disambung dengan “Diga chi gab ast? Masih ada kabar apa lagi?”

Panjang kan?

Afghanistan juga terdiri dari berbagai macam etnik. Ada Pashtun, Tajik, Hazara. Tapi sayang, hubungannya tidak harmonis. Perbedaan agama merupakan pemicu utamanya, antara Sunni dan Syiah. Legenda Ali bin Abi Thalib-nya udah ga masuk akal lagi. Tapi ya itu, taqlid. Sampe ada semacam ziarah ke sebuah danau Band-e-Amir dan harus “dicelup” ke dalam air sebanyak 3 kali (bayangkan menjelang musim dingin) sambil berteriak, “Ya Ali madad. Wahai Ali, tolong.” untuk menghilangkan kenestapaan, musibah, nyembuhin penyakit. Penganut Syiah di sana sangat percaya dengan legenda ini. Dan korban jiwanya banyak, salah satunya karena infeksi paru-paru.

Afghanistan merupakan negara dengan penyandang cacat terbanyak di dunia. Terjebak dalam suasana perang selama lebih dari 3 dekadelah yang menyebabkan ini semua terjadi. Memang ada beberapa daerah rawan yang penuh ranjau. Salah melangkah sedikit, anggota badan hilang. Lebih beruntung jika dibandingkan dengan kehilangan nyawa (tergantung sudut pandang sih). Kehilangan 1 kaki, 2 kaki, tangan, merupakan hal biasa. Bahkan ada sebuah rumah sakit yang khusus menangani kebutuhan orang-orang cacat. Rehabilitasi kaki palsu. Dokter dan staf rumah sakit pun kebanyakan mengalami hal yang sama. Keren ya. Makanya bisa lebih empati, karena tau rasanya kehilangan anggota badan.

Keadaan perang ini juga membuat banyak warganya mengungsi ke negara tetangga, Iran dan Pakistan. Saat Uni Soviet pertama kali menginvasi Afghanistan, kedua negara ini lah yang membuka lebar-lebar pintu untuk pengungsi. Tapi ternyata perang tidak sehari dua hari. Hal ini berlangsung puluhan tahun. Lama-kelamaan kedua negara tetangga pun menerima terlalu banyak beban sehingga sekarang sudah tidak secara bebas lagi menerima pengungsi. Visa dipersulit. Pekerjaan dipersulit, hanya bisa menjadi pekerja kasar. Di negara tetangga hidupnya sulit, di negara sendiri sedang berperang. Astaghfirullah.😥

*** bingung mau cerita apa lagi, banyak banget sebenernya, detailnya, emag lebih enak baca sendir sih ***

Kadang saya suka takjub sendiri selama baca buku ini. Kok bisa ya orang-orang hidup di tempat seperti ini. Mungkin salah satu hal yang bisa diteladani oleh kita adalah semangat pantang menyerah orang Afghan (sebenernya, kalo baca buku ini, agak kurang tepat menyebut orang Afghan. Istilah ini hanya me-refer ke 1 etnik, yaitu Pashtun. Tapi apa daya, semua orang menganggap sama saja hehe). Pantang menyerah, maka bisa terus bertahan sampai sekarang. Meski keadaan sulit. Meski teror bom selalu menunggu.

Di epilog, penulis menutup buku dengan kisah baru. Perjalanan menuju Tajikistan, tetangga Afghanistan. Sebuah negara harapan. Kata orang-orang Afghan.

Can’t wait to read “Garis Batas”.
*besok kuliah woy*

***

Sampai di Ishkashim, diseret polisi dari Falang Coach. Polisi itu membolak-balikkan paspor serius bgt. Padahal bacanya tibalik. #SD

Sasapedahan dari Ceko lintasi Rusia, Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgistan, Tajikistan, Afghanistan, dg tujuan akhir India. #SD

Dagingnya berwarna hitam. Jika dikibaskan, warna hitamnya menghilang, berubah menjadi lalat yg beterbangan. #SelimutDebu *merinding*

Setahun lebih ia tinggal di Indonesia, cuma tahu kata “berapa”. (tentang Ramazan) #SelimutDebu

“Diskriminasi,” kata dokter Najmuddin, “di sini memang ada diskriminasi. 95% staf di RS ini adl penyandang cacat.Tetapi kl boleh saya menyebutnya, ini diskriminasi positif.”

Ada titik (teuing kota teuing naon) namanya Farah loh di Afghanistan. Baru tau :)) @farahdiputri

Bahkan ada jejak Indonesia di Peshawar. Bung Karno pernah berpidato disana. Ga aneh kl ada pertigaan namanya Soekarno Chowk/Square. Tapi pas ditanya arti Soekarno apa, jawabannya malah “aha, mungkin pahlawan dari India!” *gubrag* #SelimutDebu

Ada petanya! #SelimutDebu *pdhl baru beres prolog* http://lockerz.com/s/238827654 (dan emang ada banyak lagi peta)

Kandahar tidak ada apa-apanya. Tapi hati2 kalau kau ke Ghazni. Keadaannya parah…. Kasur dan selimutnya banyak kutu.

Wakhan adl surga tersembunyi, diapit Tajikistan, Cina, & Pakistan. Kau harus melewati Kunduz, Taloqan, sampai Badakhshan. 4 hari dari Kabul.

Lebih dari sekedar traveler — explorer. Aaaaaaaaaaaa :_) *padahal baru baca kata pengantar doang* http://lockerz.com/s/238818525

View all my reviews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s