OPPEK 2012 kurang greget!


OPPEK 2012 kurang greget!

Ada yang tahu kenapa? Kalau panitia OPPEK 2012 pasti tahu kenapa. Yap! Pasalnya, OPPEK tahun ini yang mengusung tema “Breaking the Iceberg” dengan tajuk “Prophase” meniadakan acara sakral yang biasanya selalu ada di dalam OPPEK beberapa tahun ke belakang. Beberapa mengatakan ‘roh’nya OPPEK, ‘nilai jual’ OPPEK. Itu adalah pemilihan ketua angkatan, nama angkatan, dan jargon angkatan.

Wow! Kok bisa? Hehehe

Berisiko? Ya. Banyak yang ragu? Ya. Ga takut gagal? Mungkin ya. Emang bakal berhasil? Ya, sebenernya untuk menjawab ini, tidak akan ada orang yang tahu, sebelum ada yang mencobanya. Usut punya usut juga sebenarnya, yang penulis tahu, hal ini bukanlah hal yang baru diperbincangkan. Ketua angkatan itu penting. Perannya banyak, dari akademis seperti jadwal, bahan lab, ujian, dll, sampai kekompakan angkatan. Tapi masa dipilih hanya dalam waktu 3 hari. Kan belum kenal betul. Kaya milih kucing dalam karung aja. Kalau kucingnya bagus, alhamdulillah. Tapi kalau ga sesuai harapan ya angkatan bisa apa. Begitulah kira-kira.

Menurut Poundra, ketua Senat Mahasiswa FK Unpad periode 2012, inginnya panitia OPPEK 2011 pun sebenarnya di OPPEK 2011 tidak langsung memilih ketua angkatan dengan alasan yang tadi (secara garis besar), tapi kembali lagi, “acara puncak OPPEKnya apa dong?”. Ga klimaks, kurang berkesan. Ya itu, ragu. Terlalu banyak risiko yang harus diambil. Semua orang pikirannya, yang berharga dan bikin OPPEK layak dikenang itu adalah moment angkatannya.

Nah, disinilah ‘racun’nya. Sayang dan bangga angkatan itu ga salah. Tapi kalau sejak awal mahasiswa baru langsung dipaparkan dengan hal ini, lama-lama bisa jadi bumerang. Mungkin, gap antar angkatan itu justru dimulai karena ini. Karena panitia OPPEk yang notabene kakak-kakak mahasiswa baru men-setting suasananya seperti itu sejak awal. Ngeri ya? Seolah-olah yang bikin OPPEK “wow” itu adalah moment angkatannya. Seolah-olah, masuk FK Unpad itu nggak membanggakan. Tapi jangan sampai salah tangkep juga, karena kekompakan angkatan itu hal yang sangat penting.

Makanya, rantai ini perlu diputus. Dobrak! Dan kita beri paradigma baru. Kalau dipikir-pikir, moment kefakultasan itu memang yang paling mungkin ada di OPPEK. Mabim kan lama, hitungannya bulan. Justru kesempatan angkatan untuk eksplorasi diri sendiri jadi lebih panjang, berikhtiar untuk memilih ketua angkatan yang paling sesuai dengan harapan.

***

Saya pribadi merasa, bukan hanya peserta yang “memecah gunung es” mereka. Panitia juga. Keluar dari zona nyaman. Masuk ke zona penuh risiko yang tidak semua mau melaluinya, terlalu takut, inginnya bermain aman saja. Keluar dari zona OPPEK-itu-seperti-ini. Salah satunya dengan memutuskan untuk meniadakan pemilihan ketua angkatan ini.

Namanya aja dunia pembinaan dan kaderisasi. Yang dibina dan dikader itu manusia. Bukan benda mati. Responnya bisa berjuta kemungkinan. Makanya perlu minimal 4 modal supaya berani memecah gunung es ini. Pertama, sabar. Sabar menapaki jalan panjang ini. Membina danmengkader itu ga instan kan ya? Sabar ketika banyak orang lain yang meragukan keputusan kita. Berani saja lah. Berani karena benar, insyaallah. Kedua, teguh. Sabar saja tidak cukup. Kita perlu punya hati yang teguh. Karena kesabaran bisa menipis. Ada saat-saat gelap, ga ada harapan, besar sekali godaan untuk berkata, “Ya sudahlah! Apa adanya aja.” Makanya kita harus teguh hatinya, supaya kesabaran yang menipis itu bisa ditingkatkan lagi. Sungguh, kesabaran itu sebenarnya ga ada limitnya. Dia hanya menipis saat keteguhan hati kita melemah. Maka setelah bersabar, hati kita harus teguh. Ketiga, optimis. Siapa sih yang bisa mengalahkan pikiran positif? Ya pikiran negatif! Hehe. Pasti pada familiar sama kalimat “When you really want something, all the universe conspires in helping you to achieve it”. Kalo saya pribadi sih, lebih suka bilang, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Jadi, optimislah! Yang terakhir adalah pengorbanan. Mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, uang, dan lain-lain. Harta dan jiwa ceritanya. Perubahan yang diinginkan bukan perubahan asal-asalan. Maka pengorbanan adalah suatu keniscayaan. Kalau orang ekonomi bilangnya “there’s no such as free lunch”.

Sabar. Teguh. Optimis. Pengorbanan.

***

Kata (beberapa) panitia, OPPEK 2012 kurang greget! Ah, tapi siapa tahu peserta berpendapat apa.

 

 

*Catatan pribadi pasca “OPPEK 2012: Prophase”, hasil evaluasi semalam bareng panitia, dengan sedikit opini pribadi, dan nampaknya ini masih bersambung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s