Permen Karet


Mabda: Mama, mau pelmen kalet.

Dafin: Ih, bukan pelmen kalet tau. Peymen kayet. (tatapan yakin)

Percakapan ini terjadi antara adik dan sepupu saya beberapa tahun lalu, pas mereka masih kecil, umur tk kali ya. Sekarang mereka udah besar. Mabda udah smp, Dafin juga insyaallah smp tahun ajaran baru ini. Berkesan banget bagi saya karena lucu banget.😀

Sejauh itu aja kesan saya sama moment ini sampai tadi pagi. Ya, sampai tadi pagi. Ternyata, ini bukan cuma percakapan lucu biasa antara bocah yang sama-sama cadel huruf “r”.  Lebih dari itu. Moment ini tuh, tentang semangat saling mengingatkan. Semangat untuk memberi nasihat, meski diri sendiri belum sempurna. Juga, semangat untuk berlomba-lomba memperbaiki diri setelahnya.

Yah, setelah itu mereka agak adu mulut siapa yang bener karena menurut Mabda juga peymen kayet itu salah. Tapi orang tua-orang tua menengahi. Memberi penjelasan. How sweet! :’)

Akan terlalu banyak waktu yang terbuang jika terus menerus merasa diri tidak pantas. Yah, selamanya bakal ga pantes kalo parameter pantesnya itu sempurna tanpa cela. We are human, right? Padahal nasihat itu hak saudara kita. Untuk yang baik, yang terlihat baik, tentu untuk yang jelas-jelas belum baik. Maka saat diberi nasihat, bukan berarti yang memberi nasihat itu lebih baik. Pun sebaliknya. Sama-sama yah. Saling ngingetin.

*saya yang lagi pengen banget ditausyiahin sama siapapun yang berkenan*

3 thoughts on “Permen Karet

  1. iihhhh dlu aku ngincer banget buku itu. eh, udah dibeli afifah. jadi, apa aku ppinjem afifah ajja yaa…. hehehe….
    mau aku kasi tausyiah atau coklat pus?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s