Habibie & Ainun


Habibie & AinunHabibie & Ainun by Bacharuddin Jusuf Habibie
My rating: 4 of 5 stars

Saya selalu bilang ke orang-orang (tertentu) kalau buku ini adalah buku romantis. :3 Keliatan dari judulnya juga, Habibie & Ainun. Naon sih.
Saya skip aja ya bagian romantis-romantisnya. Bagian komunikasi tanpa bicara, senyuman yang selalu dirindukan, selalu bareng kapan pun dimana pun, dan lainnya. Hehe. Katanya skip.
***
Ada 2 sisi. Sisi Pak Habibie dan sisi Bu Ainun.
Pertama, Pak Habibie. Beliau itu pekerja keras dan selalu total dalam setiap pekerjaannya. Waktu awal-awal berumah tangga, penghasilan beliau tidak begitu memadai. Kalau dipake sendiri sih berlebih, tapi dua orang ga cukup, apalagi hidup di Jerman, harus menanggung biaya asuransi, dan sebagainya. Beliau mengambil pekerjaan tambahan (selain sambil menyelesaikan program doktornya dan mengajar) juga sering lembur. Pulang sering larut malam, udah ga ada bis, akhirnya jalan kaki. Sering juga karena berhemat, jalan kaki ke tempat kerja belasan kilometer. Sepatu barolong. Terus musim dingin. Akhirnya dilapisin kertas. #gapahamlagi
Terus jadi sedih baca kisah industri pesawat terbang Indonesia. Ada bagian dimana Pak Habibie flashback ke tahun 2005 saat beliau akan menghadiri konferensi internasional di Indonesia. Beliau naik pesawat hasil rancangan konorsium Eropa. Padahal seharusnya, kalau ga dijegal IMF waktu krisis 1998, seharusnya Indonesia udah bisa menikmati pesawat yang tidak kalah bagus tapi buatan sendiri. Standar ganda IMF. Intinya sih, waktu krisis itu, Indonesia bakal dibantu IMF asal pendanaan ke bidang strategis dihentikan, termasuk pendanaan untuk membuat pesawat terbang. Beda lagi sama waktu AS dan eropa krisis 2007-2010 kemaren. Ya, standar ganda katanya.
Saat masih kuliah di perantauan (Jerman), beliau pernah sakit parah. Dan apa yang membuat beliau bertahan? Salah satunya adalah karena kemauan untuk mengabdi lagi ke Indonesia nanti. Itu beliau buktikan saat sudah mapan, menjadi direktur perusahaan pesawat terbang di Jerman, beliau memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk mengabdi saat dipanggil oleh Pak Presiden (waktu itu Pak Harto). Menjadi menristek selama 5 periode, wakil presiden, dan presiden, plus ketua beberapa (beberapa!) badan yang berkaitan dengan pekerjaannya. Bikin mikir dan banyak liat diri sendiri yang sangat lemah ini.
Kedua, Bu Ainun. Segitu besarnya peran beliau dalam kehidupan Pak Habibie. Sabar, pantang mengeluh, selalu senyum tampaknya. Beliau juga dokter! :3 Yang paling care sama kesehatan suami dan anak-anaknya. Ada saat dimana beliau bekerja sebagai dokter di rumah sakit Jerman. Suatu hari, anaknya sakit. Beliau berpikir, “Anak orang lain saya obati, tapi anak sendiri tidak.” Akhirnya beliau berhenti dari rumah sakit tersebut dan total berperan di rumahnya, sebagai ibu, istri, dan dokter bagi suami serta anak-anaknya.
Bu Ainun itu partnernya Pak Habibie. Setiap mengambil keputusan, apapun, selalu setelah berunding bersama. Dan Bu Ainun sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis, bahkan sering karena pertanyaan Bu Ainun, Pak Habibie jadi terinspirasi.
Selama mendampingi Pak Habibie, Bu Ainun aktif di beberapa kegiatan sosial lainnya seperti yayasan beasiswa ORBIT dan Perhimpunan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia. Beliau pun menginisiasi sebuah pengajian rutin yang selalu diadakan di rumahnya Patra Kuningan.
Saat beliau wafat, Pak Habibie beserta keluarga mengadakan pengajian di rumahnya. Selama 40 hari, lebih dari 1000 orang datang ke rumah beliau untuk mengaji dan ikut mendoakan, setiap harinya. Masya Allah. Kalau saya meninggal nanti gimana ya? Emangnya udah ngapain juga hey? Siapa lo?
***
Sangat banyak detail yang tidak saya tulis. Emang lebih baik baca sendiri biar ga terdistorsi. #tetep #suruhbacasendiri #asalways
Secara keseluruhan, buku ini menohok saya. Karena saya masih banyak leha-lehanya. Ga disiplin sama diri sendiri. Padahal sesibuk itu, beliau-beliau baca Al Quran minimal 1 juz sehari dan rutin shaum senin kamis. (btw, besok senin) Sibuk teh apa atuh ya? Saya juga masih banyak ngeluh. Padahal apalah ujian yang saya terima. (._.)
Semangat semangat semangat! Ambil dan tiru yang baik-baiknya. Masih mungkin dan bisa berubah, insyaallah.

View all my reviews

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s