Another Fact about Education in Indonesia


Aku selalu bermimpi

Matahari telah melahirkan para guru

Dan guru melahirkan banyak matahari

Hingga matahari tak lagi sendiri

Matahari tak pernah sendiri, guru

Ia selalu ada bersamamu

Hangatkan cinta yang tumbuh

Dan menyinari cakrawala kecilku

Selalu

(Abdurahman Faiz, November 2002)

***

Masih ingat bagaimana suasana di kelas saat KBM? Waktu zaman SMA, atau SMP, atau SD, atau bahkan TK. Bukan suasana ricuhnya, tapi ‘kepadatannya’. Satu kelas bisa mencapai 50 orang. Gurunya 1 orang. Mungkin bagi sekolah swasta, hal ini tidak berlaku. Akan tetapi bagi sekolah negri, hal ini merupakan satu hal yang lumrah. Apa lagi, apa lagi? Kalo zaman dulu, biasanya (SD biasanya) selain sekelas 50 orang, gurunya 1, untuk semua pelajaran lagi. Ada yang mengalami?

Efektif dan efisienkah belajar, apalagi untuk anak SD yang menurut saya butuh perhatian ekstra, dengan perbandingan guru dan muridnya seperti di atas? 1:50 loh rasionya. Sangat berbeda dengan kondisi tempat saya menuntut ilmu saat ini yang rasionya 1:10-11 (meski ada juga lecture seangkatan, tapi dominan kelas kecil).

Memang, berapa sih rasio guru : murid di negara lain? Kalo kita melihat developed country seperti Amerika Serikat dan Jerman, mereka memiliki rasio guru : murid sebesar 1:20, sedangkan Korea rasionya 1:30.

Lalu Indonesia?

Menurut Kepala Badan Pengembangan SDM dan Penjamin Mutu Pendidikan, Syawal Gultom, Indonesia sebenarnya termasuk ke dalam yang “termewah” di dunia. 1:18 saudara-saudara! Akan tetapi, ia mengakui hal ini tidak disertai dengan distribusi yang baik. Disini terjadi kesenjangan. Sebanyak 68 persen sekolah di kota kelebihan guru, sementara 37 persen sekolah di desa dan 66 persen sekolah di daerah terpencil masih sangat kekurangan guru. Seperti misalnya Banyumas yang kekurangan 1400 orang guru.

Disebutkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Sulistyo, kekurangan guru akibat distribusi yang tidak merata tidak hanya dialami daerah-daerah terpencil di luar pula Jawa atau perbatasan. Kondisi ini juga terjadi di Pulau Jawa, bahkan di kabupaten/kota yang jaraknya berdekatan dengan Jakarta. “Di sekitar Jakarta seperti Bogor, Banten, masih banyak jumlah guru yang kurang,” terangnya. Persoalan distribusi ini sudah menjadi masalah kronis.

Sebenarnya bukan masalah rasio guru : muridnya. Hal ini hanya salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Karena jika rasio ini saja yang dijadikan patokan, maka seharusnya kualitas pendidikan di Kalimantan Barat memuaskan. Mengapa? Dalam diskusi dengan salah seorang pejabat Diknas Provinsi Kalimantan Barat di ruang Dewan Pendidikan Provinsi Kalbar, Jumat 7 Mei 2010, terungkap bahwa rasio guru : murid di Kalimantan Barat berkisar 1:15. Sudah masuk dalam kategori ideal menurut  penelitian yang dilakukan oleh Glass dan Smith tahun 1979.

Lalu apa? Sangat logis sebenarnya. Saat rasionya kecil, maka guru akan memiliki waktu lebih untuk membina dan mengembangkan dirinya sendiri, menjadi guru yang ahli, yang berkualitas. Guru tidak dibebankan dengan memeriksa tugas atau ujian anak-anaknya yang bejibun. Guru dapat lebih perhatian kepada setiap anak didiknya. Setiap murid dapat dibimbing secara personal. Tidak hanya memberi tahu ilmunya, tapi juga mendidik, transfer nilai, dan inilah yang penting. Meski sebenarnya hal ini kembali ke pribadi gurunya masing-masing.

Sebenarnya kalau di Indonesia multifaktor: dari sisi murid dan gurunya sendiri. Mengajar itu mulia. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi guru juga manusia, butuh makan, butuh menghidupi keluarga. Kurang miris apa jika seseorang yang merintis sekolah di pedalaman hanya digaji Rp1.500 per hari, itu pun dibagi ke 7 orang guru (klik disini). Banyak anak-anak yang tidak bersekolah karena faktor biaya juga. Tidak berani bermimpi, bercita-cita. Boro-boro mimpi, dalam satu hari saja belum tentu makan tiga kali. Selain itu kebijakan yang dibuat pemerintah masih dirasa memberatkan guru-guru (klik disini). Kembali ke masalah kesenjangan rasio, sebenarnya bukan tanpa upaya. Tapi ternyata upaya untuk pemerataan distribusi guru terhalang oleh otonomi daerah. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintah pusat tidak bisa memindahkan guru dari daerah yang kelebihan guru ke daerah yang kekurangan guru (klik disini). Untuk mengatasi hal ini, telah dibuat surat kesepakatan bersama (SKB) yang telah ditandatangani sejak Oktober lalu antara Kemdikbud, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri).

***

Dalam hidup, pendidikan, pembinaan, dan kaderisasi itu penting. Dan dalam hidup akan selalu ada masalah. Mungkin saat ini kita melihat Indonesia seperti ini. Sungguh banyak kekurangannya. Sampai-sampai bingung ini sebenernya salah siapa. Sering pemerintah membuat kebijakan, banyak yang protes. Yaaa, tidak masalah. Itu tanda sayang rakyat Indonesia, menunjukkan kepeduliannya. Yang pasti jangan sampai menyerah, putus asa. Mendahului takdir Allah Swt. Optimis yuk!

Sumber:

http://www.jpnn.com/read/2011/11/23/108927/Rasio-Guru-Siswa-RI-Kalahkan-AS-

http://edukasi.kompas.com/read/2011/11/24/09561786/Rasio.Jumlah.Guru.Indonesia.Termewah.di.Dunia.tetapi.

http://edukasi.kompas.com/read/2010/05/20/15181721/Payah.Distribusi.Guru.Belum.Juga.Merata

http://www.scribd.com/doc/31250458/Rasio-Guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s