Juni Manis


“Setelah saya hitung, umur kehamilan ibu sekitar 33 minggu. Diperkirakan bayi ibu akan lahir pada tanggal 17 Juni 2011.” saya berkata mantap pada standardized patient di salah satu station OSCE kemaren pagi.

“Hah? Berapa minggu?” dokter penguji saya kayanya kalo lagi minum bakal keselek. ekspresinya itu loh. makin nervous lah saya.

“Hee, iya dok, 33 minggu.” saya jadi ragu. duuuh Ya Allah.

“Itu salah banget. Terus lahirnya kapan? Tanggal 17 Juni 2011? Coba itu lagi.”

Hyaa grogi jadi mikirnya agak mampet. Untung bawa kalkulator. Saya itung lagi. Oia, ada yg salah. Tapi ko 37 minggu? Apa salah ngitung? Ya udah yang penting beresin dulu. Ntar kalo ada waktu, itung lagi.

Pas mau ngitung lagi, tiba2 ada sebuah suara. NEEEEEEET

Saya menatap dokter penguji dengan memelas. Menunjuk kertas tak berdaya yang dari tadi saya coret-coret.

“Makasih dok” Saya menatap pasrah karena ya emang harus lanjut ke stasion selanjutnya.

Pas saya keluar, ternyata kebagian stasion istirahat. Saya merenung sambil ngotak-ngatik kalkulator. Iya nih, 37 minggu harusnya.  Daaaan, saya menyadari kedodolan yang telah saya perbuat. Hellooow, sekarang (kemarin lebih tepatnya) tanggal 30 juni 2011 gitu loh. Dan saya bilang bayinya lahir 17 juni 2011. Pantesan dokter bilang saya salah banget. Baru ngeh.

***

Resusitasi bayi.

“Siapkan tempat yang hangat. Beri ganjalan di bagian bahu supaya agak ekstensi.” Ini anduk yang di bagian kepala harus lebih atas, kan nanti dipake ngelap terus dibuang. Ini dalem hati.

“Bersihkan jalan napas. Karena bayinya vigourous, maka gunakan bulb.”

“Heart rate?” sambil ambil stetoskop

“… (sesuatu dibawah 100, lupa)”

“Breath?”

“Gasping”

“Warna kulit?”

“Biru”

“Lakukan PPV selama 30 detik sebanyak 15 kali”

“Heart rate?”

“… (sesuatu dibawah 100, lupa)”

“Breath?”

“Gasping”

“Warna kulit?”

“Biru”

“Lakukan PPV dan chest compression selama 30 detik.”

“Heart rate?” sambil ambil stetoskop

“102” alhamdulillah udah aman

“Breath?”

“Spontan”

“Warna kulit?”

“Pink”

“Baiklah, masukkan ke …. Ya Allah dok saya lupa sesuatu! (panik, beresin dulu kalimatnya) ke postresusitation care”

“Lupa apa?”

“Bayinya belum di lap, belum dikasih rangsang taktil” (ingin guling-guling)

***

Imunisasi

Karena bayinya berumur 2 bulan, maka saya akan memberikan vaksin DTP dan polio.

Pas mau ngasih DPT: Bagian bahunya dibuka ya bu.”

Pasien: “Ga di paha dok?”

Saya: pikiran ke draft osce dan baru inget DTP itu intra muskular, pasiennya baik banget nanya yang sebenernya mah ngingetin “Oia, di paha.”

Saya ambil jeruk. Sudut sudah 90 derajat. Dicubit. Dan bismillah tancap!

“Dok, saya melupakan sesuatu.” Sambil menatap miris jarum yg sdh terlanjur ada di dalam jeruk.

“Kulitnya belum dibersihkan pake alkohol.”

— hanya kenangan OSCE semester 2 dengan segala intrik yang terjadi (apa deh). Gimana enggak. Di saat saya merasa belum siap. Berharap kloter 2 aja (setiap saat berharap kloter 2, kenyataannya selalu dapet kloter terakhir), taunya dengan indah saya dipanggil untuk bertandang di kloter satu. Ya Allah, saya belum belajar dengan maksimal. Niatnya pengen belajar dulu selama nunggu giliran. Tapi Allah berkehendak lain.

Ini kenyataan dari tafsir Al Fatihah yang kemarin dibahas Teh Ratih. Kasih sayang Allah! Ar Rahman, Ar Rahim.

Kita akan mendapatkan hal – hal kita usahakan. Benarkah? Bahkan Allah ngasih hal-hal yang ga kita usahakan dengan maksimal. Orang makan makanan sehat, olah raga, istirahat cukup, sudah sunatullahnya dia sehat. Nah kalo yang jajan sembarangan, jarang olah raga, begadang melulu gimana nasibnya? Secara logika, pasti sakit lah ya. Tapi nyatanya, tetep aja dikasih sehat.

Tetep aja dikasih lulus OSCE.

Astaghfirullah.

Maka apa yang menahan seluruh sel ini untuk terus bersyukur? Alhamdulillah ya Allah :’) Semoga syukur ini menjadi nyata, senyata telinga yang mendengar lisan ini berkata Alhamdulillah.

2 thoughts on “Juni Manis

  1. Baru ingat, kalau aku :

    “Iya, usia kehamilan ibu 39 minggu.”
    “Kumaha atuh Dok, itu dua minggu lagi melahirkan, katanya bulan (suatu bulan di tahun 2011, yang jelas bukan bulan Juni) melahirkannya.”
    “Oh iya, maaf, Dok (waktu itu dosen penguji yang jadi pasien). Punten ya, Bu, saya hitung lagi.”
    Hitung sambil deg-degan, kayaknya kalau di auskultasi HRnya sudah irregular.
    “Hm, jadi Bu.. usia kehamilan ibu 33 minggu (pelan nyaris tak terdengar, berdo’a, ya Allah, mudah-mudahan yang beliau dengar jawaban yang benar).
    “Hm.”
    “Iya Bu, karena sudah mau melahirkan, jadi ibu rajin datang periksa, ya. Nutrisinya dijaga, Bu, dll dsb.”
    Teeet.
    (Alhamdulillah).
    Lalu keluar sambil tersenyum pasrah,
    “Terima kasih, Dok.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s