Refleksi #2: Fakultas Kedokteran Unpad, Dokter, dan Saya


“Pus, akhirnya keterima di kedokteran Unpad.”

Saya pun mengoreksi, “Bukan ‘akhirnya’, tapi ‘awalnya’.”

— Salah satu obrolan via facebook yang pernah saya lakoni dengan seorang teman beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN.

Bagi saya, menjadi bagian dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran merupakan berkah dari Allah Swt. yang tak terkira. Saya sendiri tidak tahu, perasaan apa yang saya rasakan saat melihat pengumuman SNMPTN. Semuanya campur aduk, mulai dari tidak percaya, seperti mimpi, bersyukur, bahagia, senang, tegang, hingga waswas pun ada. Sampai-sampai saya sendiri heran dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya telah saya perbuat sampai-sampai Allah Swt. “berbaik” hati untuk memberikan kado yang sangat spesial seperti ini. Apapun itu, saya berharap untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini sedikit pun. Tidak semua orang ditakdirkan untuk melanjutkan masa pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, bukan?

Salah satu hal yang saya kerjakan saat pertama kali mengetahui kejelasan status pendidikan saya tahun ini adalah mencari tahu tentang bale dan me-recall semua ingatan mengenai FK Unpad yang pernah saya dengar. Yang katanya, FK itu sangatlah berbeda dengan fakultas lainnya. Mulai dari ospek sampai cara belajar. Saat itu saya hanya “mengiyakan” saja perkataan orang –orang tentang FK Unpad. Benar atau tidaknya berita yang saya dengar, saat itu saya juga belum tahu. Ternyata, setelah saya diberi kesempatan untuk sedikit mencicipi aroma FK sampai OPPEK hari pertama, subhanallah, sampai kehilangan kata-kata sendiri. Cerita yang saya dengat tentang FK Unpad, belum ada apa-apanya. Lebih dahsyat ketika sudah merasakan sendiri. Saya tidak henti-hentinya bersyukur kepada Allah dan masih saja merasa kurang karena seperti mendapatkan kebaikan bertubi-tubi. Bukan hanya kesempatan untuk menempuh pendidikan kedokteran, tetapi lebih dari itu, saya mendapatkan sebuah keluarga yang belum tentu di fakultas lain bisa sesolid ini. Subhanallah. Alhamdulillah, ya Allah.

Saya pikir, adalah suatu kewajaran, ketika seseorang itu bahagia, bersyukur, senang, dan perasaan sejeneis lainnya, saat mendapatkan sesuatu yang diiginkannya, diimpi-impikannya, bahkan dicita-citakannya. Itulah sepertinya yang terjadi pada saya. Jika saya tidak ingin menjadi seorang dokter, pasti saya akan merasa biasa-biasa saja dan Alhamdulillah nyatanya tidak seperti itu. Sejauh yang saya ingat, sejak pertama kali mendeklarsikan cita-cita (sekitar waktu saya masih TK), saya sudah menjawab ingin menjadi dokter. Tidak pernah berubah. Sekarang, setelah saya dewasa, saya harus tahu alasan kenapa saya memilih sesuatu. Ketika saya secara sadar memilih untuk menjadi dokter, saya meyakini, bahwa insyaallah bukan karena (seperti paradigm umum) ingin terlihat keren, ingin cepat kaya, atau apapun itu. Akan tetapi, secara sederhana, saya ingin menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat kepada lingkunagan sekitar dan sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat sehingga Allah Swt. ridho kepada saya nantinya. Jalan pengabdianlah yang telah saya pilih. Harapannya, semoga sampai akhir saya bisa menjaga keikhlasan niat. Amin.

“…Siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia…” (QS. Al Maidah:32)

Karena menjadi dokter berarti membaktikan hidup untuk kepentingan perikemanusian

Karena menjadi dokter berarti siap untuk menjunjung tinggi kejujuran, etika, kesusilaan, dan nilai-nilai luhur lainnya.

Karena menjadi dokter berarti bertanggung jawab atas ilmu yang dimiliki.

Karena menjadi dokter berarti menghormati, mengutamakan orang lain, dan adil.

Karena menjadi dokter berarti menepati janji.

Itu semua tidak mungkin bisa terwujud tanpa adanya niat yang lurus. Ketika kita bekerja untuk Tuhan, maka penilaian manusia atas diri hanyalah dampak, bukan tujuannya. Niat yang lurus insyaallah akan menjadi pengingat diri untuk selalu di atas jalan yang benar, menguatkan langkah saat kaki ini rasanya tidak punya energi lagi, juga menjadi penyemangat diri.

Menjadi dokter pun berarti memilih untuk menjadi seorang long-life-learner, seseorang yang tidak pernah berhenti belajar karena dasar dari profesi dokter terletak kepada pemahaman akan ilmu yang dimiliki. Ilmu yang tertanam secara kokoh di dalam diri akan memunculkan karakter seorang manusia yang kuat. Karakter inilah yang akan mencerminkan dokter jenis apakah diri ini nantinya.

Dokter bukanlah seseorang yang sempurna, yang pasti akan selalu berbuat benar. Ia pun seorang manusia biasa yang mungkin untuk berbuat salah. Maka kehadiran teman sejawat bukanlah lagi suatu saran, tetapi juga menjadi keharusan. Bukan teman biasa, yang kerjanya hanya menyampaikna apa yang ingin kita dengar. Akan tetapi teman yang meluruskan di saat diri ini berbelok arah, mengobarkan semnagat di saat diri ini meredup, dan menjadi orang pertama yang mengatakan sesuatu yang memang harus kita dengar.

Profesi dokter itu mulia. Akan tetapi menjadi seorang dokter yang mulia itu adalah suatu pilihan. Ketika diri ini dengan sadar memilih jalan yang benar, maka di situlah letak kemuliannya. Denagn keilmuannya, ia memilih utnuk mengabdi, bukan mengambil keuntungan diri.

2 thoughts on “Refleksi #2: Fakultas Kedokteran Unpad, Dokter, dan Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s