Cipsi dan Kiti


 
 

Di rumahku banyak kucing.

Hmmm… Ga banyak juga sih, tapi pokonya sering banget kucing-kucing bertandang ke rumahku untuk mencari makanan.

Sampe-sampe, sering banget kucing beranak di para-para kamarku. Aduh, apa ya, bahasa indonesianya para-para?

Jadi udah ga aneh lagi lah kalo dari para-para kedengeran suara-suara misterius. Soalnya udah ga misterius lagi. Naon deui. Yaaa… Suara si anak emeng itu tadi.  

Trus, Cipsi dan Kiti ini apaan sih? Apakah sejenis biskuit? Atau merk cokelat yang baru? Oooh… Jangan salah. Cipsi dan Kiti adalah nama kucing yang gambarnya ada di atas sana. Mereka adalah generasi ketiga dari kucing yang sering banget bertandang ke rumahku untuk mencari makanan.

Gini kronologisnya. Ada seekor kucing, sebut saja nenek karena saat itu belum kami (aku dan adik-adikku) beri nama. Dia teh beranak. Lama-lama si anaknya tumbuh aja menjadi seekor kucing yang lincah. Dia diberi nama Kaci oleh adikku. Si Kaci berbahagia karena merasa memiliki semua makanan yang ada di rumah kami (sisa-sisanya maksudnya). Si Kaci ini sering hamil dan melahirkan dan trauma melahirkan anak-anaknya di rumahku. Ini dia kisah sedihnya…

Jadi gini. Suatu hari Kaci melahirkan anak. Karena si anak-anaknya ini gandeng, mengeong-ngeong terus, mamahku jadi agak kesal. Mamahku mencari asal suara anak-anak Kaci, dan mereka ditemukan di suatu tempat yang saya lupa dimana. Lalu mamahku membuang mereka. Malam harinya Kaci pulang, mungkin dia habis hang out dengan teman-teman sepermainannya, dia mengeong-ngeong dengan brutal untuk memanggil anak-anaknya. Tetapi… Anak-anaknya tidak menjawab panggilan Kaci. Saat itulah Kaci sadar bahwa anak-anaknya ini telah dibuang sama mamahku dan traumalah ia. Sejak saat itu, Kaci tidak pernah lagi melahirkan di rumahku. Sepertinya, mamah menyesal akan perbuatannya. Ya Allah, maafkan mamahku. Itu yang terakhir kalinya.

Ya. Tadi Cuma intermezzo (‘z’-nya satu atau dua?). Lanjut ke kronologis. Setelah si Kaci tumbuh agak besar, nenek melahirkan lagi dan si anak kucing ini diberi nama Karna oleh adikku. Berarti si Karna ini adiknya Kaci tapi beda papah, mungkin. Aku sok tahu. Hehe. Lalu nenek juga melahirkan seekor kucing lagi yang belum diberi nama karena dia galak. Padahal suka minta-minta makan. Dasar tidak tahu terima kasih.

Nah, antara Karna dan Kaci sering terjadi persaingan untuk memperebutkan makanan. Secara global, mereka adalah kakak beradik yang kurang rukun. Karena mereka rakus. Ga nyambung. Kerjanya bertengkar aja. Selalu berjauhan. Si Kaci pun hamil lagi. Sepertinya dia sudah menemukan rumah yang lebih enak sehingga jarang bertandang ke rumahku. Jadi aja si Karna merajai makanan di rumahku. Meratui kali, kan dia betina. Tapi kadang-kadang Kaci dan kucing galak tadi hadir untuk berkompetisi memperebutkan makanan dengan Karna.

Suatu hari, Karna hamil. Entah siapa suaminya. Karna melahirkan di dekat mesin cuciku. Mamahku langsung menyuruh untuk ngasih lap yang banyak ke anak-anak Karna. Biar ga kedinginan. Anaknya ada tiga. Keciiiiiiiiiiiiiil banget. Lucu pisan lah. Mereka kerjanya tidur, minum susu dari Karna, bermain, berlari-lari, dan gogoleran. Nah, si anak-anak inilah yang bernama Cipsi dan Kiti. Si anak yang ketiga hilang entah kemana. Cipsi adalah kucing yang bulunya berwarna coklat-hitam-putih dan bulu di sekitar matanya berwarna hitam jadi aku suka manggil dia si ninja. Cipsi ini, eongannya (aneh banget, eongannya) keciiiiiiiiil banget. Kata mamahku si mirip suaranya temen adikku yang kelas satu yang kalo diakjak ngobrol teh kaya bisik-bisik. Beda banget sama adikku itu yang kalo ngomong di depan muka orangnya aja sok jojorowokan. Nah, dari kecil Cipsi ini sakit-sakitan soalnya suka batuk-batuk gitu. Suara batuknya kaya suara Myrtle Merana (yang di Harry Potter, hantu di kamar mandi cewek lantai 3 kalo ga salah) lagi nagis. Beneran! Terus makannya juga sedikit. Dihabisin mulu sama Kiti. Nah, kalo Kiti adalah kucing berbulu hitam-putih. Bulunya halus, ga kaya Cipsi yang keliatannya lembut padahal kalo dipegang mah ga lembut sama sekali. Kiti mah halus banget, rapi lagi. Ga kaya cipsi. Cipsi mah enak diliat, lucu, unik kaya ninja, tapi ga enak dielus. Kiti enak dielus kalo diliat biasa aja.

Nah, pada masa mereka kecil, mereka lucu banget tingkah lakunya. Aku seneng banget ngeliatin mereka bermain. Kiti ngejar ekor Karna (mamahnya), Cipsi ngejar ekor Kiti, dan anak ketiga ngejar ekor Cipsi. Lucu kan? Apalagi badan mereka kecil-kecil. Mana buntut si Karna goyang-goyang aja. Jadi paciweuh tapi bodor.

Kan mereka kerjanya cuman tidur, minum susu dari Karna, bermain, berlari-lari, dan gogoleran. Yah, okei-okei aja sih, tapi di bagian ‘minum susu dari Karna’, Karnanya keberatan. Masa udah gede nyusu aja? Kata si Karna, meureun. Karna merasa muak. Jadi si Cipsi dan Kiti digalakin kalo mau nyusu. Sejak saat itu. Hubungan Cipsi dan Kiti dengan mamahnya merenggang. Karna jadi jarang ke rumahku.

Setelah Karna pergi, Kiti dan Cipsi menguasai makanan-makanan sisa di rumahku. Berbeda denga Karna-Kaci, Cipsi-Kiti ini kakak beradik yang akrab. Akrab banget. Mereka suka tiduran berdua, kaya foto di atas, makan sepiring berdua (padahal kan, biasanya kucing ga mau berbagi makanan. Tul ga? Contohnya, Karna dan Kaci.), heureuy pakejar-kejaran kaya di film India, malah, aku dan mamahku pernah mergokin mereka ciuman! Masya Allah, kalian kan kakak beradik. Udah ga ngerti deh, gimana jalan pikirannya. Aduuh… Pokonya mereka teh lucu banget tingkah lakunya, meski suka ngeselin juga.

Mereka teh parah banget. Setiap ada yang bawa piring, pasti dikintilin. Ada yang buka pintu dapur, dikintilin. GR banget lah, mereka merasa akan diberi makan. Padahal kan nggak juga. Mamahku pernah dikintilin sampe ke warung coba! Parah pisan. Bahkan kalo aku saur juga, mereka udah stand by di depan pintu dapur. Subhanallah yah.

Cipsi suka banget tidur-tiduran sok seksi sambil berjemur di atas kompa air. Atau kalo lagi hujan, Cipsi dan Kiti duduk berdua di atas kursi rotan yang ada di depan musholla rumahku sambil memandang hujan. Lucuuuu…

Dan masih banyak banget kelakuan mereka yang kalo dibahas satu-satu pasti bakal panjang banget.

Tapi…

Sekarang rumahku sepi.

Minggu, 28 Desember 2008 si Kiti keliatan lemeeees banget. Kata adikku dia sakit borok di idungnya, ketularan Cipsi. Aku nanya ke adikku dimana Cipsi, soalnya Cipsi ga keliatan dimana pun. Tapi adikku ga tahu. Padahal, hari itu, banyak banget tulang ayam kesukaan mereka. Ngeliat si Kiti aku jadi sedih. Biasanya dia lincah berlarian di kebon belakang rumahku.

Besoknya, pas mamah, papah, dan adik-adikku mau berangkat ke Bogor, di gerbang terlihat seekor kucing. Itu Cipsi! Tapi dia keliatan lemeeeeees banget. Dia sekarat. Aku sedih. Dan disitu aku baru tahu kalo Kiti kemaren mati di deket mesin cuci.

Sekarang, rumahku sepi.

One thought on “Cipsi dan Kiti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s